Menjadi Jogja Menjadi Indonesia

“Menjadi Jogja Menjadi Indonesia"

Kala sang matahari tersenyum, aku menyipitkan mata sejenak. Mencoba menelaah pesona yang terpancar. Aku melemparkannya senyuman tipis, tanda ketidaknyamanan. Mataku sontak menutupkan kelopaknya rapat-rapat. Namun di sisi lain, desiran angin menyapaku sebagai ucapan selamat datang.

Jogja.

Daerah istimewa yang terletak di bagian kecil jawa tengah, provinsi yang menghangatkan.

Kini, aku merasakan desiran angin tersebut memelukku. Membawaku ke alam tak terbatas, dimana realita dan mimpi tidak berseberangan. Aku ingat betul bagaimana Jogja menyambutku. Sayangnya, aku hanya dapat menemuinya ketika liburan datang.

Beberapa menit kemudian, seseorang menepuk pundakku ringan, seakan mengembalikanku ke dalam lautan realita.

"Ira, bantuin umi ya, Nak. Bawa koper sama tas tenteng coklat itu."

"Eh, eh astaghfirullah. Iya, Mi rebess, siap laksanakan!", balasku cepat.

Aku menenteng tas coklat itu dengan sebelah tangan, lalu tangan yang lainnya menggeret koper biru besar. Kakakku, Mas Thoriq biasa ia disapa, melihatku dengan pandangan mengejek, seraya berkata. "Cih, lama. Lemot sih"

Aku mencibir.

“Idih, nyebelin banget.", sudah bosan aku melahap ejekan ringannya. Bagiku, ejekannya adalah motivasi terhebat untuk mendorongku maju.

Aku merapikan barang dengan segera. Menata dan memastikan barang-barang tersebut kutempatkan ditempat yang tepat. Dan faktanya, tidak sampai hitungan jam, kamar hotel berasa rumah karenaku.

Aku berjalan mendekati Mas Thoriq. Alisnya menyambutku tak biasa.

“Bro, liat kerjaannya adek lo", ujarku sambil menonjok bahunya pelan.

Ia tertawa, dan berkata. "Hahahaha, iye iye percaya. The best mah adek gue"

Aku tertawa membalasnya, yaa kira-kira beginilah caraku membuktikan ejekannya.

Setelah semua barang telah tertata, aku merebahkan diri sebentar di atas ranjang. Memutar alam bawah sadar ini tentang Jogja dan beribu kisah yang tersimpan indah. Aku terhenyak, teringat kejadian 10 tahun lalu. Senyumku terpulas tanpa di sengaja. Semua kenangan indah itu terekam sempurna. Membuatku merindu Jogja lebih dalam.

Menjadi Jogja menjadi Indonesia bukanlah hal yang salah. Yang salah hanyalah kita, sebagai warga Indonesia yang belum menyadarinya.

*

Langit jogja malam ini tampak temaram, ditemani sinar rembulan yang tersenyum di ujung sana. Mengintip dibalik raga gagah tuan awan. Kaki kecilku berlari mengikuti langkah umi yang tampak sibuk menawar harga barang.

"Kok bisa sendal kayak gini doang panjenengan regai lima puluh ribu sepasang?! Ini kalo saya beli di Pasar Rebo deket rumah paling cuma dua puluh ribu.”

"Pasar Rebo dimana, Bu?"

"Di deket rumah saya, Bapak nggak mungkin tahu. Sudahlah, Pak. Cobak mbok dikurangi."

"Sepurane, Bu. ngga bisa.. harga pas awake dewe iki"

"Astaghfirullah. Lima puluh ribu lek entuk loro piye? Wes aku nggak nawar maneh iki, Pak. Piye?"

Percakapan singkat itu terus berlanjut. Beberapa kali, pedagang berkaos merah itu mengelap keringatnya. Peluhnya menetes deras membasahi pelipisnya, dahinya berkerut mengikuti bibirnya yang menjawab berbagai pertanyaan ibu-ibu soal harga sepatu yang ia jual. Umiku tidak mau kalah saing, tangannya bergerak-gerak diikuti sepatu yang enggan ia lepaskan.

Beberapa menit berlalu, namun percakapan itu tak kunjung usai. Umi dan para ibu yang lain tak bosan-bosannya menawar harga barang. Dari toko satu ke toko lainnya. Aku menahan tawa sekaligus kebingungan.

“Mungkin, inilah alasan Allah menciptakan wanita sebagai ibu rumah tangga.., pikirku. Semenit berlalu, dua puluh menit berlalu, dan bahkan satu jam telah terlewati. Namun, percakapan itu tak kunjung ada habisnya.

"Berisik sekali ibu-ibu ini! Pokoknya nanti kalo aku sudah gede, aku nggak bakal jadi ibu-ibu yang bawel seperti mereka.", aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, seraya berjanji dalam hati.

Jarum jam terus berputar. Bosan dengan hal yang itu-itu saja, mataku mengelilingi berbagai sudut provinsi ini. Mencoba menelaah Jogja dari sudut yang berbeda. Tidak berapa lama, aku tersadar bahwa Jogja memang indah. Tidak pernah aku melihat provinsi seindah ini. Atau bisa aku katakan bahwa tidak ada kata lain selain, menakjubkan.

Ya, Jogja sungguh menakjubkan.

Tiba-tiba, aroma cerutu menggeliat kasar. Menusuk hidung ini tajam. Memaksaku tuk menjauhinya. Berulang kali tanganku sengaja kugerakkan, mengibas asap rokok yang menyelubungi. Aku terbatuk-batuk keras, lalu dengan sengaja memisahkan diri dari keramaian. Tidak mungkin aku memaksakan diri untuk terus berdiri di tempat semula. Perlahan-lahan, aku mundur beberapa langkah. Menjauhi kaki-kaki panjang di depanku dengan kelopak mata tertutup.
Dengan perlahan pula rekaman otakku berputar, mencoba mengingat betapa bisingnya suara derap kaki para pembeli di malioboro, sindiran manis para pembeli yang ingin para penjual menurunkan harga barang, bau melati yang menyerbak di tengah-tengah mirota, teriakan memaksa sang penyanyi jalanan Beringhardjo yang mengiba setelah konser mereka, bahkan bau hujan kala langit jogja menangis.
  
Jogja sungguh menakjubkan.

Aku tetap saja melangkah ke belakang. Sepasang kaki ini berjalan asal, yang aku pentingkan adalah bagaimana cara yang tepat agar asap cerutu itu tidak mengganggu kenanganku tentang Jogja.

Aroma cerutu itu perlahan menghilang diikuti dengan senyapnya malam ini. Aku membuka mata. Gelap kurasa. Aku mencoba menggapai bayangan yang mampu aku tangkap malam ini. Untungnya, sang rembulan kini berpihak padaku. Senyumannya membantuku mencari samar-samar jejak kaki yang sempat tersingkap.

Gelap kurasa. Sendiri dalam sepi. Beberapa menit berlalu, teriakan tangis yang aku bendung pun pecah.

"UMI HUAAAA UMIIIIIII! IRAAA SENDIRIANNNNN!! UMI!! IRA DIMANA!?!", aku menelungkupkan kepala dalam-dalam. Mencoba memaknai ketenangan yang harus aku miliki, tapi entah dimana sekarang.

"AKU BENCI JOGJA!"

Kalimat itu terdengar klise. Tapi berarti besar untukku. Jogja telah merubah segalanya. Aku menghempaskan kaki ke tanah. Air mata ini tak berhenti menitik, menyalahkan Jogja yang memisahkanku dengan semua ini.

"HUAA....... IRA BENCI JOGJAAA! UMI, ABI, MAS THORIQ!! KALIAN DIMANA?!”

"UMI!!!! IRA MAU PULAAANGGG!! IRA BENCI JOGJA!!!!"

"UMI DIMANA?!?"

"UMI!!!!! HUAAAA!!"

Langit serasa runtuh, dan bagiku kali ini bumi tak kuasa menahannya. Aku diam. Rekaman kenanganku tentang jogja seperti benang kusut, yang tidak jelas dimana ujungnya. Aku mendongak sebentar. Rembulan tetap tersenyum padaku.
 
Aku geram.

Jogja mengacaukan segalanya. Seharusnya bukan Jogja destinasi liburan kali ini.

Jogja itu bersalah.

"UMI DINGIN.."

"IRA BENCI JOGJA HUAAA.. IRA BENCI..."

Beberapa menit berlalu, Jogja semakin sepi dan pikiranku semakin kalut. Entah bagaimana caranya agar aku kembali dan meninggalkan Jogja yang bersalah ini.

Aku menuntut diriku. Namun, semakin besar tuntutan ini, aku semakin tak kuasa. Percuma saja, aku menggerutu kalau saja aku tidak berusaha menyelesaikan masalah ini. Otakku berkerja lebih dari biasanya. Kelopak mata ini kubiarkan terpejam dengan sendirinya.

Tiba-tiba, rekaman itu terputar acak. Entah itu teriakan Umi yang memekakkan telinga, bisingnya Malioboro, kedatangan pertamaku di Jogja, Mas Thoriq yang selalu meremehkanku, bau melati di Mirota hingga.. Aku teringat satu hal..

Asap cerutu. Iya.. Dialah penyebabnya.

Jogja tidak bersalah.

"Ini bukan salah Jogja. Ini berkat asap cerutu itu. Iyaa, asap cerutu itulah yang bersalah. Dan dialah yang harus bertanggung jawab”

Aku mencoba berdiri. Bangkit dari keterpurukan semu ini.

Jogja tidak bersalah.

Jogja sungguh menakjubkan.

Aku merindu semua ini.

Keluargaku dan Jogja.

Asap cerutu itu datang menusukku lagi. Kali ini baunya lebih tajam, seolah datang mendekat. Aku berlari ke arahnya. Mencoba menarik kesimpulan dibalik dinginnya langit Jogja malam ini. Sepasang kaki ini tidak berhenti berlari. Mataku tetap terpejam, mencoba menggapai kenangan yang sempat kusimpan rapi di memori otakku.

Keluargaku dan Jogja.

Tiba-tiba dari arah yang berlawanan, seorang wanita berkerudung berteriak, diikuti oleh beberapa orang lainnya. Mataku tidak mampu menangkap bayangan itu dengan jelas.

"IRAAAAAA!!!! KAMU KEMANA SAJA NAK?!?!? YA ALLAH, MAAFIN UMI SAYANGGG!!!"

Badanku serasa ringan. Wanita berkerudung tadi menopang badanku dengan sigap. Ia membawaku dalam pelukannya yang hangat. Aku membalas pelukannya. Bau rokok, dan bau keringat para pembeli yang menyelubunginya segera kuabaikan.

Wanita berkudung itu menangis, lalu seraya berterimakasih kepada beberapa orang yang tadi mengikutinya. Entah kenapa, kepalaku memberat. Semua serasa gelap seketika. Dan tidak ada satupun yang kuingat kecuali satu hal, Jogja sungguh menakjubkan.

*

"Woi, bangun lo. Jadi cewek jangan hobi tidur!”, Mas Thoriq mendorongku perlahan. Membuatku terbangun dari mimpi.

"Weits. Ganggu aja lo!”

"Cepetan mandi, mau pergi.”

"Kemana?", jawabku asal.

"Malioboro, tapi inget lo berangkat sama gue. Jadi, jangan ilang-ilang lagi kayak sepuluh tahun yang lalu. Ngerti?"

Aku tertawa terbahak-terbahak. Baru saja, aku memimpikan kisah itu.

"Siap komandan, gue udah sembilan belas tahun sekarang. Lo nggak usah khawatir."

Senyumnya terpulas kecil, lengkap dengan tatapannya yang mengejek.

Jogja adalah gambaran kecil dari indahnya bumi pertiwi, Indonesia. Menjadi Jogja Menjadi Indonesia adalah sebuah realita.

Tags