Kamis, 26 September 2019
Seiring berjalannya waktu, banyak orang seolah dirisaukan dengan identitas mereka.
Semakin usia bertambah tua, segalanya tidak lagi tampak mudah seperti sedia kala. Kita diharuskan untuk lompat sekali dan jatuh berulang kali demi memahami hakikat dari eksistensi sebuah identitas.
Identitas hadir sebagai sesuatu yang sulit untuk dipahami.
Problema ini kian memburuk tatkala globalisasi mulai merambah secara perlahan. Segala sesuatu yang umumnya sukar digapai, sekarang tidak lagi. Kita mampu memiliki segala sesuatu yang kita inginkan hanya dalam hitungan detik belaka.
Namun, berbeda halnya dengan identitas, kita bahkan dirundungi kebingungan karenanya.
Globalisasi tersebut memperkenalkan kita kepada era media sosial. Seperti yang telah kita ketahui bahwa media sosial memberikan banyak kemudahan untuk berkomunikasi antar sesama. Namun dengan merujuk kepada hal tersebut, media sosial belum mampu menyelesaikan apa yang harus diselesaikan. Era media sosial justru memberikan efek kepada identitas yang kita miliki.
Sebut saja kelebihan media sosial dalam merekam kenangan yang ada di kehidupan kita. Hal itu membuat kita dapat mengingat sesuatu yang semestinya mampu dilupakan dengan mudah. Hal ini tentu tidak diperkirakan oleh banyak orang, kita seringkali tidak sadar bahwa apa yang kita lakukan akan berpengaruh kepada generasi mendatang. Era media sosial hanya membuat kita semakin mahir atasnya.
Hal ini tentu membahayakan identitas seseorang tatkala ia belum mampu memikul beban. Dengan adanya media sosial, beberapa yang ingin melepaskan diri dari lingkaran kelam masa lalu semakin terhambat.
Percayalah, banyak orang merasa terkucilkan ketika mereka tidak mampu mendapatkan apa yang mereka lihat di postingan seseorang. Beberapa orang lainnya bahkan memilih tinggal di sebuah zona nyaman efek rasa takut yang memuncak tatkala penilaian buruk oleh orang lain ditujukan padanya.
Identitas secara perlahan terperangkap dalam sebuah penjara. Dan sedihnya, ia tidak akan mampu menemukan jalan keluar. Sebuah ironi ialah ketika bahkan ribuan pasang mata mengidap kelainan jiwa karena ketidaktahuan mereka dalam mengobati diri mereka sendiri.
Kita bisa menyebutnya sebagai tragedi kehilangan identitas. Hal menyedihkan seperti ini tidak bisa dibiarkan terbengkalai. Dengan berjalan bersama, kita harus meredakan lara yang ada sehingga tidak seorang pun yang merasakannya.
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسرَفُواعَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُالذُّنُوبَ
جَميعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّ حِيمُ
(الزمر: ٥٣)
Artinya :
"Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"
(Az-Zumar : 53)
Kita sebagai manusia tentu menciptakan banyak kesalahan. Namun, hal itu bukanlah alasan kuat yang membuat diri terpaksa mengurung identitas ke dalam bilik penjara. Selagi berpedoman pada guidebook yang Allah turunkan kepada RosulNya, kita tidak perlu risau dengan penilaian siapapun, kecuali penilaianNya.
Dan hal pertama yang harus dilakukan adalah mengenal identitas diri sendiri.
Untuk apa aku dilahirkan jika secara pribadi aku tidak menginginkannya?
Apa yang sebenarnya harus aku lakukan?
Segala sesuatu hadir karena sebuah alasan. Dan tentu manusia dihadirkan hanya untuk beribadah kepadaNya. Sesederhana itu, sayangnya seringkali para manusia banyak bertingkah tidak senada.
Menganggap diri sendiri adalah sumber kesalahan sehingga memasukkannya ke dalam penjara bukanlah sesuatu baik yang Allah sukai. Menyadari bahwa manusia tidak luput dari kesalahan memang sebuah kewajiban, namun tidak kepada penyesalan yang berlarut-larut.
Tetaplah melaju dengan identitas yang kamu miliki. Kita memiliki 24 jam yang sama untuk mengeksplorasi apa yang kita inginkan.
Selamat hari Kamis! Mari membenahi diri bersama-sama.
DHIORNIKI
.
Thursday, 26th of September 2019
Over the time flies soundlessly, many people seem to be confused about their identities.
When we get older, everything no longer seems as easy as before. We must jump once and fall repeatedly to understand the meaning of the identity’s existence.
Identity is present as something which is difficult to understand. This problem gets worse when globalization starts to hit slowly. Everything that was generally difficult to achieve, now no longer. We are even able to have everything we want in just a second.
However, unlike identity, we are even hit by confusion because of it.
Globalization introduces us to the era of social media. As we already know that social media provides a lot of convenience to communicate between people, but by referring to it, social media does not solve what must be solved. The era of social media gives more effect on our identity precisely.
Let’s realize the advantages of social media in recording memories that exist in our lives. It allows us to remember things that should be easily forgotten. This is certainly not expected by many people, we are often not aware that what we do now will affect future generations. The era of social media only makes us more adept at it.
This certainly endangers the identity of someone who has not been able to shoulder the burden he has. With the existence of social media, some who want to break away from the dark circle of the past are increasingly hampered.
In the other cases, many people feel insecure when they are unable to get what they see in someone's post. Some others choose to live in a comfort zone to decrease the effects of fear that peak when bad judgment by others is directed at him.
Identity is slowly trapped in a prison. And sadly, it will not be able to find a way out. The irony is when even thousands of pairs of eyes suffer from a mental disorder because they don’t know how to heal themselves.
We can call it the tragedy of losing identity. Sad things like this can not be left behind. By walking together we must calm the existing painful, so no one feels it.
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسرَفُواعَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُالذُّنُوبَ
جَميعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّ حِيمُ
(الزمر: ٥٣)
The Meaning :
"Say, "O my servants who transgress the limits of themselves, do not despair from the grace of God. Verily Allah forgives all sins. Indeed, He is the Forgiving, the Most Merciful."
As humans, we certainly create many mistakes. However, that is not a strong reason that makes us forced to confine our identity into a prison cell. While referring to the guidebook that Allah sent down to His Prophet, we do not need to worry about anyone's judgment, except His judgment.
And the first thing to do is get to know your own identity.
What was I born for if I didn't personally want it?
What do I really have to do?
Everything exists for a reason. And surely, humans are only present to worship Him. It's that simple, unfortunately, many human beings often behave in the same way.
Thinking of yourself as a source of error so putting him in prison is not something good that Allah likes. Realizing that humans are not free from mistakes is indeed an obligation, but not to a protracted regret.
Keep going with the identity you have. we have the same twenty-four hours to explore what we want.
Happy Thursday, everyone! Let's evaluate ourselves together.
DHIORNIKI


