UNTUK APA KITA BERAGAMA?

Rabu, 24 Juli 2019



“Dasar pertama agama (الدين) adalah mengenal-Nya”

Menilik banyaknya orang beragama namun tidak mengenal Tuhan dengan baik, ungkapan di atas benar adanya. Sebuah esensi beragama tidak akan terasa nyata bila para pemeluk agama tersebut “merasa” tidak perlu mengenal-Nya.

Masalah yang belum kunjung menemukan titik temu itu kini bertambah parah dengan hadirnya beberapa orang yang “merasa” lebih baik perihal mengenal Tuhan. Hal tersebut sejatinya tidak menyelesaikan masalah. Kehadiran mereka justru menambah keasingan pada jiwa-jiwa yang belum tergerak mengenal Tuhan dan berujung pada sebuah perpecahan umat beragama.

Penyakit “merasa” yang satu ini sungguh meresahkan. Baik merasa tidak perlu mengenal Tuhan dan merasa mengenal-Nya lebih baik, keduanya bak memercikkan minyak pada api yang sedang membara.

Kehidupan umat beragama tidak lagi menyenangkan. Percaya atau tidak, persatuan antar umat beragama kini berada di ujung tanduk. Bahkan sebuah perdebatan kusir seolah mampu menarik perhatian dibandingkan dengan melakukan ibadah atas hukum yang ditetapkan.

Masing-masing kelompok berkelakar bahwa kelompok merekalah yang berhak menerima titel “benar” di antara kelompok lainnya. Sungguh menyedihkan, sifat angkuh dalam beragama masih saja sulit untuk ditaklukkan bersama. Menilik metode mengingatkan yang memiliki aturan tersendiri, baik sosok yang mengingatkan dan diingatkan patut beretika yang baik tanpa meluapkan amarah dan hinaan satu sama lain.


فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ  (الروم : ٣٠)

Artinya :
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Ar-Rum : 30)

Agama (الدين) adalah sebuah ketaatan kepada-Nya atas keyakinan (العقيدة), hukum (الشريعة), dan norma (الأخلاق) yang ditetapkan demi tercapainya kebahagiaan dunia dan akhirat.

Tidak lagi bisa dipungkiri, bahwa agama ialah penyebab bertemunya puncak ketenangan dan kedamaian pada satu jiwa. 

Jika agama hanya dipahami sebagai hubungan mesra antara seseorang dan Tuhan, maka agama hanya membuat manusia “terlena” dengan kenikmatan ritual tanpa peduli dengan realitas di sekelilingnya. Menurut Asghar Ali Engginer, konsep tauhid bukan sekedar bermakna keesaan Tuhan, namun kesatuan manusia. Tauhid adalah jalan untuk pembebasan kemanusiaan.

Hal itu sempat dilontarkan oleh Al-Ustadz Dr Hamid Fahmy Zarkasyi MA Ed MPhil, bahwa semakin agamis seseorang maka semakin manusiawi dan semakin humanis seseorang maka semakin atheis. Oleh karenanya, penanaman tauhid yang kokoh harus diikuti dengan komitmen kemanusiaan yang kokoh pula.

Lalu, untuk apa kita beragama?

Kita beragama karena kita membutuhkannya. Agama adalah pedoman hidup, ia berperan membawa seseorang menjadi pribadi yang lebih baik. Jika ditemukan sebuah pemicu perpecahan atas nama agama apapun, kesalahan patut dilimpahkan kepada pemeluk agama tersebut. Agama tidak untuk hanya diperdebatkan.

Baik jika ditilik dari segi simbolik dan substantif, ajaran dan tuntunan beragama harus dilakukan tanpa melulu diperdebatkan. Terkadang kita perlu berkaca, sosok yang perlu sering dinasehati tak lain dan tak bukan ialah diri sendiri.

Selamat hari Rabu! Mari membenahi diri bersama-sama.

DHIORNIKI🌺

A TOXIC

Rabu, 3 Juli 2019


Media sosial dewasa ini ialah sahabat setiap orang. Mengingat fakta tersebut, setiap raga bernyawa mungkin setuju bahwa kehadirannya berpengaruh besar terhadap aspek psikologis seseorang. Entah dari segi positif maupun negatif, keduanya akan muncul sebagai sebuah toxic jika tidak diselesaikan sempurna.

Di sisi lain, generasi Z —generasi yang lahir rentang 1995-2009— tentu tidak mungkin melepaskan diri dari pesatnya kemajuan teknologi dan dampak yang ditimbulkan. Hal ini sungguh meresahkan dan menuntut perhatian.

Contohnya sederhana. Sebut saja berbagai kebahagiaan yang sengaja diciptakan oleh seseorang. Apapun motifnya, terkadang kebahagiaan tersebut tidak mampu menyuntik seseorang untuk turut merasakannya.

Alih-alih terinspirasi dari berbagai rekaman kebahagiaan,  beberapa orang justru terjebak dalam spekulasi. Dikatakan atau tidak, spekulasi itu tumbuh dan berkembang menjadi sebuah kecemburuan yang sering membunuh rasa dan menolak logika. Beberapa orang lainnya bahkan terjerembab ke dalam jurang tak kasat mata. Perlahan tapi pasti, tanpa disadari, ia akan melesat semakin dalam lalu..

..menghilang.

Sementara, kesedihan yang meluap bersamaan terpaksa membungkam. Tanpa perlu diketahui siapapun, karena kehadirannya memperkeruh suasana. Sebagai buah pikir atas teori yang mengatakan bahwa tidak ada seorang pun membutuhkan kesedihan orang lain, kehadirannya dianggap tidak berguna dan memiliki peran nihil dalam menyelesaikan permasalahan.

Sungguh, betapa keresahan ini membutuhkan penyelesaian. Meski tidak semua orang memiliki privilege dan kemampuan menyelesaikan masalah yang sepadan, tetapi sesegera mungkin ia harus terobati.

"الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ"
(الرعد : ٢٨)

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram."
(Ar-Ra'd ayat 28)

Ayat tersebut mengingatkan kita untuk kembali memelukNya. Bahkan jika diperlukan, menjadikanNya sebagai pundak berkeluh kesah adalah harga mati yang mampu menenangkan.

Keresahan akan sungguh melelahkan bagi mereka yang ikhlas merelakan diri teracuni atas toxic yang diciptakannya.

Berbagai pencapaian dan kebahagiaan seseorang yang terekam dalam media sosial tidak selamanya "seiya sekata" dengan realita. Mereka dihadirkan sebagai inspirasi, selebihnya kita —sang pemilik kisah— yang berevaluasi.

Tidak semua tawa hadir tanpa tangis. Mari mengerti.

Everyone tries to figure out, they just don't tell you. But if you haven't tried it once, let yourself start first.

Everything happens when you try to make it happen. So, let Allah do the rest.

Selamat hari Rabu! Mari membenahi diri bersama-sama.

DHIORNIKI🌺

Tags