THE THEORY OF ACCEPTANCE



Sunday, 26th of July 2020



“Acceptance not only boosts positive self-esteem, but it teaches us how to manage conflict and build healthy relationships.”

Accepting yourself and others are not as easy as turning your palm, there are many things that are not as expected. In fact, it’s so common when we feel confused about where and how to position ourselves. Reality comes as an endless calamity and it often happens. There is only regret because people around us don’t appreciate us like what had been imagined before.

Mostly teenagers today are killed by a strange sense to reach ‘the standards’ of a community. If we are one of them, hopefully the gap of self-rejection won’t widen. On many occasions, those who often feel this are very vulnerable emotionally provoked. Categorized as a highly sensitive person, Dr. Elaine Aron (1997) defines him as a person who has awareness of the small things around him. Who is also more easily overwhelmed when he is an environment that stimulates his senses.
We’re all beautiful messes.
Realities that do not work as expected are truly painful, but it’s normal when a highly sensitive person takes longer to be haunted by his regret and guilt. But, it would be more frightening if we see that reality as something with bad value to ourselves. Indeed, if it’s done perfectly, that negative energy can give us the opportunity to grow and improve ourselves continually.
Involve Allah, so you don’t do the acceptance process alone.
Acceptance and self-love is the first step to keeping conflict in check. It allows conflict to occur without allowing unforgivingness to take root. Furthermore, if the old process is carried out alone, now is the right time to involve Allah in every struggle towards our dreams. Allah SWT even said that He would not let anyone who believed in Him be suffered by sorrow and sadness.

وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

(العمران : 139)

Its meaning:

“So don’t weaken and don’t grieve, and you will be superior if you are (true) believers.”
(Al-Imran: 139)

Besides involving Him, the process of acceptance will feel more meaningful when we change our mindset. Diverting thoughts when we desire to judge others so much is the right key. Sometimes, we need to position ourselves as a certain figure to explore the interesting things that can make us accept the situation. Next, instead of focusing on why someone is different, it’s better for us to focus on the kindness he did.

Addressing the world in black and white in understanding the truth and fault is normal. However, it can’t always be applied.

There are some things that don’t have to be true or false if we choose to accept what we are. So, involve Allah.

We are not always good, but don’t ever stop trying.

Happy Sunday, everyone! Let’s evaluate ourselves together.

DHIORNIKI🌺

.


Ahad, 26 Juli 2020

“Proses penerimaan tidak hanya meningkatkan positive self-esteem, pun mengajarkan bagaimana penyelesaian konflik dan membangun hubungan yang sehat.”
Menerima diri sendiri dan orang lain tidak semudah membalikkan telapak tangan, ada-ada saja hal yang tidak sesuai ekspektasi. Bahkan, untuk menerima diri sendiri, kita tidak jarang kebingungan atas di mana dan bagaimana diri harus ditempatkan. Seringkali terjadi, realita hadir sebagai sebuah  malapetaka panjang yang tak berkesudahan. Apa yang ada hanya disesali, karena orang di sekitar tidak mengapresiasi kehadiran kita seperti apa yang telah dibayangkan sebelumnya.
Banyak di antara remaja masa kini terbunuh rasa asing untuk memenuhi ‘standarisasi’ suatu komunitas. Jika kita adalah salah satunya, semoga jurang penolakan atas diri tidak semakin melebar. Pada banyak kesempatan, mereka yang sering merasakan hal ini sangat rentan terpancing secara emosional. Dikategorikan sebagai highly sensitive person, Dr. Elaine Aron (1997) mendefinisikannya sebagai orang yang memiliki kesadaran terhadap hal-hal kecil di sekelilingnya dan lebih mudah merasa kewalahan ketika berada di lingkungan yang sangat menstimulasi indranya.
We’re all beautiful messes.

Realita yang tidak berjalan sesuai ekspektasi sungguh menyakitkan, wajar jika highly sensitive person membutuhkan waktu jauh lebih lama ketika dihantui oleh penyesalan dan rasa bersalah. Namun, tentu akan lebih menakutkan jika kita memandang realita tersebut sebagai sesuatu yang bernilai buruk untuk diri. Sesungguhnya jika dibungkus dengan cara yang tepat, energi negatif yang ada dapat memberikan kesempatan  kita untuk terus berkembang dan memperbaiki diri.

Libatkanlah  Allah sehingga proses penerimaan tidak kamu lakukan seorang diri.

Penerimaan dan cinta untuk diri sendiri adalah langkah petama untuk menjaga konflik tetap terkendali. Hal itu memungkinkan konflik terjadi tanpa membiarkan rasa penolakan semakin berakar. Selanjutnya, jika dahulu proses tersebut dilakukan seorang diri, kini saatnya kita melibatkan Allah dalam setiap perjuangan menuju cita-cita. Allah SWT bahkan berfirman tidak akan membiarkan siapa saja yang beriman kepadaNya akan dirundungi oleh nestapa dan kesedihan.

وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

(العمران : 139)
Artinya:

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”
(Al-Imran : 139)

Selain melibatkanNya, proses penerimaan akan terasa lebih bermakna tatkala diri mengubah pola pikir. Mengalihkan pikiran ketika keinginan menghakimi orang lain menguap ke permukaan adalah kunci jitu. Terkadang, kita perlu memposisikan diri sebagai sosok tertentu untuk menelisik hal menarik apa yang bisa membuat diri menerima keadaan. Selanjutnya, alih-alih berfokus pada mengapa seseorang berbeda, ada baiknya kita berfokus pada kebaikan yang dilakukan orang tersebut.

Menyikapi dunia dalam warna hitam putih dalam memaknai benar dan salah adalah wajar adanya. Namun, tidak selamanya hal itu dapat diterapkan.

Ada beberapa hal yang tidak harus benar atau salah jika kita memilih untuk menerima apa adanya. Lalu, libatkan Allah.

Kita tidak selamanya baik, namun jangan pernah berhenti tuk mengusahakannya.

Selamat hari Ahad! Mari membenahi diri bersama-sama.

DHIORNIKI🌺

LIFE GOALS



Sunday, 19th July 2020


Man proposes, but Allah disposes. Everything that happens is Allah’s Will.

Living through the ups and downs of life is the process of following His surprises. Happiness, sadness, laugh, tears, worries, and the other feelings look like the spices. It’s reasonable if humans strive to reach their dreams. However, Allah always has His own way to make things feel more meaningful.

As we grow older, we don’t realize that happiness often disappears because of ourselves. That’s why the mind can’t be allowed to think without any control. Things that are absolute and innate again at issue, so it makes life motivation decreases. The result is we will lose our priority and productivity.

Then, what’s the solution to the existing problems?

Life goals are one of the solutions needed. By having the note about it, we are able to get to know his identity much deeper. Moreover, life goals drive our behaviors in the long run and help us determine what we want to experience.

So, can life goals promote happiness?

Everyone certainly dreamed of this and that, but unfortunately, not everyone dares to start it first. This one is troublesome, life goals have quite a crucial urgency. Our potential must be empowered to achieve a goal. Then, when we reached that goal, happiness will come by itself indirectly.

Life has a pattern.

The motto “man jadda wa jada” which means that struggle is an important point to get something is not a figment. Allah could not possibly be willing to let His servants who tried instead sink into failure. But, if in the end, the failure comes as a gift after a long struggle..

…believe, happiness has time.

In fact, every person has a different time frame. There is no one who is slower or deserves to be called a champion, because life is not competition. But, the process to happiness will be easily fulfilled with goals that are done with commitment. Besides believing that not every happiness can be achieved instantly, we need to understand that Allah’s Will is decisive. Humans can’t claim supremacy over Allah & whatever comes out as a result of humans’ intelligent pursuit can’t be claimed as his own doing without Allah’s intervention.

So, be faithful and Allah will fulfill everything according to level.

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Its meaning:

And whoever puts his trust in Allah, Allah will fulfill his needs.
(QS. Ath-Tholaq: 3)

Allah’s Will is done. Don’t worry about it not being done. They will be done. Humans often have the right to do something and hope what we did bring happiness, but whether it happens or not is up to Allah.

Set your life goals and contribute beyond yourself!

Happy Sunday! Let’s evaluate ourselves together.

DHIORNIKI🌺

.

Ahad, 19 Juli 2020

Man proposes, but Allah disposes. Everything that happens is Allah’s will.

Menjalani lika-liku kehidupan adalah proses meniti kejutan dariNya. Senang, sedih, tawa, tangis, khawatir, dan berbagai perasaan lainnya diibaratkan sebagai bumbu yang hadir menyertai. Wajar rasanya bila manusia berupaya keras untuk mendapatkan kejutan yang diimpikan. Namun, Allah selalu punya cara tersendiri untuk membuat segala sesuatu terasa lebih bermakna.

Semakin beranjak dewasa, tidak banyak yang menyadari bahwa kebahagiaan sering terkikis akibat diri sendiri. Betapa tidak, pikirannya dibiarkan berlari begitu saja di luar nalar. Hal-hal yang bersifat mutlak dan bawaan kembali dipermasalahkan sehingga motivasi hidup menurun. Alhasil, diri kehilangan prioritas dan berujung pada matinya produktivitas.

Lalu, apa jawaban atas problematika yang ada?

Life goals begitu biasa orang menyebutnya adalah satu dari sekian jawaban yang dibutuhkan. Dengan bermodalkan catatan yang berisi tujuan hidup tersebut, seseorang mampu mengenal jati dirinya jauh lebih dalam. Di sisi lain, life goals dapat mengendalikan perilaku seseorang dalam jangka panjang dan membantunya untuk menentukan hal-hal apa saja yang ingin ia alami.

Namun, apakah life goals bisa menciptakan kebahagiaan?

Semua orang tentu bermimpi ini dan itu, tapi sayangnya tidak banyak yang berani untuk mengambil pijakan awal. Hal ini meresahkan, itulah mengapa life goals memiliki urgensi yang cukup krusial. Potensi yang dimiliki harus diberdayakan untuk mencapai suatu tujuan. Lalu sesampainya di tujuan tersebut, secara tidak langsung kebahagiaan akan datang dengan sendirinya.

Kehidupan memiliki pola.

Semboyan “man jadda wa jada” yang bermakna bahwa kesungguhan adalah poin penting untuk mendapatkan sesuatu bukanlah isapan jempol. Allah tidak mungkin rela membiarkan hambaNya yang berusaha justru tenggelam dalam kegagalan. Namun, jika pada akhirnya kegagalan hadir sebagai hadiah setelah perjuangan panjang…

…percayalah, bahwa kebahagiaan ada waktunya.

Sejatinya, setiap raga bernyawa memiliki time-frame yang berbeda. Tidak ada yang lebih lambat atau pantas dikatakan juara, karena kehidupan bukanlah kompetisi. Hanya saja, proses menuju kebahagiaan akan mudah terkabul dengan tujuan yang diimbangi komitmen berusaha. Selain meyakini bahwa tidak semua kebahagiaan dapat diraih secara instan, kita perlu menyadari bahwa kehendak Allah sangat menentukan. Manusia tidak bisa mengatakan supremasi apapun atas Allah. Segala sesuatu yang lahir dari kecerdasan manusia bahkan melibatkan campur tanganNya.
Maka, bertawakkalah dan Allah akan mencukupkan segala sesuatu sesuai kadarnya.


وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ


Artinya:
Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.
(QS. Ath-Tholaq:3)

Kehendak Allah tepat adanya. Tidak perlu rasanya merisaukan sesuatu yang tidak mungkin tidak dilakukan. Manusia berhak melakukan sesuatu dan berharap apa yang ia lakukan mendatangkan kebahagian, tetapi terlepas hal itu akan terjadi atau tidak, itu tergantung yang Maha Esa.

Set your life goals and contribute beyond yourself!

Selamat hari Ahad! Mari membenahi diri bersama-sama.

DHIORNIKI🌺

UPGRADE



Sunday, 12th of July 2020



Globalization seems like a big truck that holds a lot of cargo. Once we refuse when it gave a ride, everything will be disappeared.

Various changes go hand in hand as long as the current development increasingly dynamic. In fact, the changes will not be meaningful if the person in charge refuses to take a role. There are things that must be sacrificed. They are energy, time, and finances. Everything is mobilized for the sake of readiness in welcoming globalization.

What’s the urgency?

Simply and solely, so everything will not be disappeared.

Maintaining the old ways in order to adapt to globalization are a lie. The result surely is a big zero when we withdraw from what is supposed to be mastered. Today’s technology requires humans as smart as they are. Notably, because humans are the ones who control the technology.

As a special being ─which is burdened by responsibilities and obligations─, humans have the unique constituent components. Some components are even able to do more than one job at the same time. That’s why humans are called as His flawless creation.

For the sake of supporting performance optimization, humans have the most important component that takes over control. It’s the brain, a vital organ that has a volume of about 1.350 ccs and consists of 100 million nerve cells or neurons. Reporting from alodokter.com, the brain acts as the body’s control center and constituent of the central nervous system (CNS) along with the spinal nerves. Given its endless performance, it must be exercised to make the brain works optimally.

The brain looks like a processor on a machine that has a certain performance capacity. This performance will actually decrease with age. However, decreased brain performance can occur much faster than imagined. The comfort offered by technology today really traps young people of productive age to be lazy to think. So if it’s ignored, the brain’s performance will gradually decline and affects mental health and the other body parts.

Then, what can we do?

In addition to consuming nutritious food, a series of activities that make the brain exercised during a period of time can also slow down the process of decreased performance. Those various activities must be in accordance with the interest and talents, so done with hard work and a prepared schedule. Allah even loves a hard worker, this is noted in the hadith of the Prophet Muhammad SAW which reads as follows:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ
(رواه الطبرني والبيهقي  )


Its meaning:

From Aisyah RA, Rasulullah SAW said: “Allah surely loves someone who works professionally.”
(Narrated by Thabrani No.891, Baihaqi, No: 334)

Globalization waits for nobody, its presence will pass continually. Therefore, it’s important to chase after it. But, welcoming change doesn’t mean rejecting what Allah said in Holy Qur’an. If Allah said no, the answer is no. We don’t need to consider something black is the same as something white, because it makes His pleasure disappear.

Upgrade yourself as what Allah commanded. Be The New You every day!

Happy Sunday! Let’s evaluate ourselves together.

DHIORNIKI🌺
.

Ahad, 12 Juli 2020

Globalisasi ibarat truk besar yang menampung banyak muatan. Sekali diri menolak ketika diberi tumpangan, maka akan habis tertindas.

Berbagai perubahan silih berganti seiring dengan perkembangan zaman yang semakin dinamis. Nyatanya, perubahan-perubahan yang ada tidak akan bermakna jika tokoh yang memainkannya menolak mengambil peran. Harus ada yang dikorbankan, baik tenaga, waktu, maupun finansial. Segalanya dikerahkan demi kesiapan dalam penyambutan globalisasi.

Urgensinya apa?

Tidak lain dan tidak bukan, agar tidak habis terlindas.

Mempertahankan cara lama ketika menyesuaikan diri dengan globalisasi adalah kebohongan. Hasilnya tentu nol besar, ketika kita beranjak menjauh dari apa yang seharusnya dikuasai. Teknologi yang semakin pintar menuntut manusia untuk sama pintarnya. Utamanya, karena manusia adalah sosok yang mengendalikan teknologi tersebut.

Sebagai makhluk mukallaf ─yang dibebani oleh tanggung jawab dan kewajiban─, manusia memiliki komponen-komponen penyusun yang unik.  Beberapa komponen itu bahkan mampu mengerjakan lebih dari satu pekerjaan dalam waktu yang bersamaan. Itulah mengapa manusia disebut sebagai ciptaanNya yang tanpa cela.

Demi menunjang optimalisasi kinerja,  manusia memiliki komponen terpenting yang mengambil alih pengawasan. Dialah otak, organ vital yang bervolume sekitar 1350 cc dan terdiri atas 100 juta sel saraf atau neuron. Dilansir dari situs alodokter.com, otak berperan sebagai pusat kendali tubuh dan penyusun sistem syaraf pusat (SSP) bersama saraf tulang belakang. Mengingat kinerjanya yang tidak berkesudahan, otak harus diasah agar senantiasa berjalan optimal.

Ibarat sebuah prosesor pada mesin, otak manusia memiliki kapasitas kinerja tertentu. Kinerja ini nyatanya akan menurun seiring dengan bertambahnya usia. Namun, penurunan kinerja otak bisa terjadi jauh lebih cepat dari yang dibayangkan. Betapa tidak, kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi kini justru menjebak anak-anak muda usia produktif untuk malas berfikir. Jika hal itu dibiarkan, lambat laun kinerja otak akan menurun sehingga berdampak pada kesehatan mental dan bagian tubuh lainnya.

Lalu, apa hal yang bisa kita lakukan?

Selain mengonsumsi makanan berigizi, serangkaian aktivitas yang membuat otak terasah dalam kurun waktu tertentu terbukti mampu memperlambat proses penurunan kinerja. Aktivitas yang dimaksud tentu beragam sesuai minat dan bakat asalkan diimbangi dengan kesungguhan dan jadwal yang teratur.  Allah bahkan mencintai seorang pekerja keras dan teratur, hal ini terangkum dalam hadist Rasulullah SAW yang berbunyi sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ
(رواه الطبرني والبيهقي  )


Artinya :

Dari Aisyah RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, mengerjakannya secara professional.”
(HR. Thabrani No. 891, Baihaqi, No: 334)

Globalisasi tidak pernah menunggu, kehadirannya akan terus berlalu. Oleh karenanya, penting untuk bergerak mengejarnya. Namun bersifat terbuka atas perubahan tidak berarti menolak apa yang Allah firmankan di ayat suci. Apa yang Allah katakan tidak tetaplah tidak, menganggap sesuatu yang hitam menjadi putih sama halnya dengan berjalan menjauhi ridhoNya.

Upgrade yourself as what Allah commanded. Be The New You everyday!

Selamat hari Ahad! Mari membenahi diri bersama-sama.

DHIORNIKI🌺

Tags