Minggu, 26 Mei 2019
Melintang di atas garis khatulistiwa antara Benua Asia dan Australia serta Samudera Pasifik dan Hindia, Indonesia memiliki beraneka ragam kekayaan. Perbedaan tersebut tampak sah-sah saja mengingat toleransi yang senantiasa digenggam patuh.
"Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi, perjuangan kalian akan lebih berat karena melawan saudara sendiri."
—Ir. Soekarno
Ungkapan presiden RI pertama ini tentu menimbulkan banyaknya perdebatan. Mungkin saat baru menggapai kata merdeka, ungkapan ini akan sulit dimengerti. Bagaimana mungkin melawan bangsa sendiri lebih sulit dari melawan penjajah?
Namun, tinta hitam sejarah telah membuktikannya. Melalui orasi kebangsaan tersebut, ia mengajak bangsa Indonesia untuk tetap berjuang bahkan setelah kata merdeka diproklamirkan.
2019
Dewasa ini, pertikaian tampak meluap di permukaan. Tidak bisa dipungkiri bahwa peliknya keadaan tersebut disebabkan oleh narasi politik identitas yang kini senter diperbincangkan. Narasi tersebut dirancang sedemikian rupa dengan menggunakan identitas diri seperti ras, agama, dan lain sebagainya sebagai landasan berpolitik.
Sebut saja prosesi pemilihan presiden, baik kubu si A dan si B, keduanya seolah berusaha merebut hati para pemilih muslim demi mendapatkan singgasana merah. Prosesi pemilihan presiden secara tidak sengaja telah membagi opini rakyat menjadi dua kubu besar, yaitu pendukung si A dan si B. Keduanya menggunakan agama sebagai titik utama pemikat perolehan suara.
Nyatanya, narasi politik identitas yang digagas sebelum dan seusai prosesi pemilihan presiden bertindak sebagai pisau bermata dua. Hal itu dibuktikan oleh kemampuan politik identitas dalam mendatangkan keuntungan di satu sisi, pun mengundang kerugian pada suatu kurun waktu yang bersamaan.
Dengan menganut narasi politik identitas, pemilih dari beberapa daerah tentu saja semakin terkelompok, terutama di daerah homogen. Polarisasi tersebut tidak hanya di Indonesia bagian barat, tetapi terjadi pula di Indonesia bagian timur.
Problema inilah yang patut dipertanyakan.
Agama yang sejatinya mendatangkan kebaikan bagi setiap pemeluknya kini seakan-akan menjadi penyebab utama keresahan. Mengapa demikian?
Beberapa orang yang tidak mengerti mau tidak mau terjebak dalam ilusi narasi yang menyempitkan. Bagaimana tidak, narasi proaktif yang berjumlah tidak banyak kini terkalahkan oleh berjuta-juta narasi reaktif.
Patut disedihkan, beberapa tokoh justru mengekspresikan idealisme dengan narasi, kritik, debat, bahkan hate speech tentang agama.
وقعنا في زمن المكلمة
"Kita terjebak dalam masa narasi"
Bagaimana mungkin agama akan menjadi solusi (pain-healing) bagi setiap pemeluknya jika ia sendiri tidak mengerti bahwa tujuan beragama adalah membangun moralitas. Patut disadari, berbagai dalil suci tentang aqidah dan ibadah tidak datang tanpa sebab.
Agama harus dijadikan sebagai pedoman dalam melakukan segala sesuatu, tanpa terkecuali kehidupan berpolitik. Namun, menjadikan agama sebagai narasi belaka tanpa aksi positif bagi maslahat ummat dan kemajuan Indonesia di masa mendatang tentu bukanlah pilihan bijak.
Untuk para tokoh yang saya hormati, sebuah tulisan receh ini saya persembahkan.
Selamat hari Minggu! Mari membenahi diri bersama-sama.
DHIORNIKI🌺
Melintang di atas garis khatulistiwa antara Benua Asia dan Australia serta Samudera Pasifik dan Hindia, Indonesia memiliki beraneka ragam kekayaan. Perbedaan tersebut tampak sah-sah saja mengingat toleransi yang senantiasa digenggam patuh.
"Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi, perjuangan kalian akan lebih berat karena melawan saudara sendiri."
—Ir. Soekarno
Ungkapan presiden RI pertama ini tentu menimbulkan banyaknya perdebatan. Mungkin saat baru menggapai kata merdeka, ungkapan ini akan sulit dimengerti. Bagaimana mungkin melawan bangsa sendiri lebih sulit dari melawan penjajah?
Namun, tinta hitam sejarah telah membuktikannya. Melalui orasi kebangsaan tersebut, ia mengajak bangsa Indonesia untuk tetap berjuang bahkan setelah kata merdeka diproklamirkan.
2019
Dewasa ini, pertikaian tampak meluap di permukaan. Tidak bisa dipungkiri bahwa peliknya keadaan tersebut disebabkan oleh narasi politik identitas yang kini senter diperbincangkan. Narasi tersebut dirancang sedemikian rupa dengan menggunakan identitas diri seperti ras, agama, dan lain sebagainya sebagai landasan berpolitik.
Sebut saja prosesi pemilihan presiden, baik kubu si A dan si B, keduanya seolah berusaha merebut hati para pemilih muslim demi mendapatkan singgasana merah. Prosesi pemilihan presiden secara tidak sengaja telah membagi opini rakyat menjadi dua kubu besar, yaitu pendukung si A dan si B. Keduanya menggunakan agama sebagai titik utama pemikat perolehan suara.
Nyatanya, narasi politik identitas yang digagas sebelum dan seusai prosesi pemilihan presiden bertindak sebagai pisau bermata dua. Hal itu dibuktikan oleh kemampuan politik identitas dalam mendatangkan keuntungan di satu sisi, pun mengundang kerugian pada suatu kurun waktu yang bersamaan.
Dengan menganut narasi politik identitas, pemilih dari beberapa daerah tentu saja semakin terkelompok, terutama di daerah homogen. Polarisasi tersebut tidak hanya di Indonesia bagian barat, tetapi terjadi pula di Indonesia bagian timur.
Problema inilah yang patut dipertanyakan.
Agama yang sejatinya mendatangkan kebaikan bagi setiap pemeluknya kini seakan-akan menjadi penyebab utama keresahan. Mengapa demikian?
Beberapa orang yang tidak mengerti mau tidak mau terjebak dalam ilusi narasi yang menyempitkan. Bagaimana tidak, narasi proaktif yang berjumlah tidak banyak kini terkalahkan oleh berjuta-juta narasi reaktif.
Patut disedihkan, beberapa tokoh justru mengekspresikan idealisme dengan narasi, kritik, debat, bahkan hate speech tentang agama.
وقعنا في زمن المكلمة
"Kita terjebak dalam masa narasi"
Bagaimana mungkin agama akan menjadi solusi (pain-healing) bagi setiap pemeluknya jika ia sendiri tidak mengerti bahwa tujuan beragama adalah membangun moralitas. Patut disadari, berbagai dalil suci tentang aqidah dan ibadah tidak datang tanpa sebab.
Agama harus dijadikan sebagai pedoman dalam melakukan segala sesuatu, tanpa terkecuali kehidupan berpolitik. Namun, menjadikan agama sebagai narasi belaka tanpa aksi positif bagi maslahat ummat dan kemajuan Indonesia di masa mendatang tentu bukanlah pilihan bijak.
Untuk para tokoh yang saya hormati, sebuah tulisan receh ini saya persembahkan.
Selamat hari Minggu! Mari membenahi diri bersama-sama.
DHIORNIKI🌺


0 Comments:
Post a Comment