GETTING THE LOST SELF BACK

 



When you lose touch with yourself, so reflect upon your life and the person you have become.
Is this the real ‘you’?

It’s so easy to lose ourselves in a crowd, part of us changed and we don’t understand why. It is genuinely possible to feel that way because we’ve certainly lived some part of our life where we are not being true to ourselves.

Many of us actually choosing to live like machines, mindlessly doing routine for the sake of the existing motions without knowing where it goes. It seems like we feel disconnected from who we really are. However, there’s a mental payoff from lying to ourselves.

Once we leave this topic unresolved, we will get stuck.

The sensation of losing ourselves also implies that we’ve once found ourselves. In fact, we don’t really lose it. We just often get covered over by other people’s ideas of who we are and what we should be. That’s why, raising awareness about self-acceptance is a great antidote.

وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

(العمران : 139)

Its meaning:

“So, don’t weaken and don’t grieve. You will be superior if you are (true) believers”

(Al-Imron: 139)

Quite simply, in order to truly accept ourselves, we must be ‘true’ on understanding the purpose of life. Lillah.

Self acceptance frees the mind from feeling of inadequacy, it caused by our needs to live mindfully entails living daily life without pretense and concern that others are judging one negatively.

As long as we obey Him, that’s okay.

Furthermore, based on a journal entitled “Mindfulness and Self-Acceptance” by Shelley H Carson and Ellen Langer (2006), one important aspect of self-acceptance is the ability and willingness to let others see one’s true self.

The lost self can come particularly when we need to make changes in our life, but we don’t really know what ‘should’ we do. In the first stage, it may seem normal. But, the anger and frustration will slowly overtake us when we recognize that we are just going through the motions instead of being who we want to be.

And now here we are: the idea of finding ourselves simply means to open up our potential to truly accomplish anything we set our mind to.

Happy Sunday, everyone! Let’s evaluate ourselves together.

DHIORNIKI🌺

.

MENEMUKAN (KEMBALI) DIRI YANG HILANG

Ahad, 6 Juni 2021

When you lose touch with yourself, so reflect upon your life and the person you have become.
Is this the real ‘you’?

Rasanya sangat mudah untuk kehilangan diri sendiri di tengah keramaian, entah mengapa sebagian dari diri berubah begitu saja. Hal itu mungkin terjadi ketika kita menjalani kehidupan dengan penuh ilusi.

Tidak sedikit di antara kita bahkan mengibaratkan diri sebagai sebuah mesin. Alhasil, kita kehilangan kontak dengan diri sendiri karena kerap melakukan rutinitas tanpa mengetahui arah yang dituju. However, there’s a mental payoff from lying to ourselves.

Dan ketika hal ini dibiarkan tanpa penyelesaian, kita akan terjebak.

Sensasi kehilangan diri sendiri juga menyiratkan bahwa kita pernah menemukannya. In fact, kita tidak benar-benar kehilangannya. Kita hanya sering terjebak oleh gagasan orang lain terkait siapa kita dan apa yang seharusnya dilakukan. Itulah mengapa, meningkatkan kesadaran tentang penerimaan diri adalah senjata terkuat.

وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

(العمران : 139)

Artinya

“Jadi, jangan lemah dan jangan bersedih. Anda akan lebih unggul jika Anda (benar) beriman”

(Al-Imron: 139)

Sederhananya, untuk benar-benar menerima diri sendiri, kita harus 'benar' dalam memahami tujuan hidup. Lillah.

Di sisi lain, penerimaan diri membebaskan pikiran dari perasaan tidak mampu untuk menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran. Kita tidak perlu menjalani keseharian dengan kepura-puraan dan kekhawatiran bahwa orang lain akan menilai seseorang secara negatif.

Because as long as we obey Him, that’s okay.

Hal ini dikuatkan oleh jurnal yang berjudul “Mindfulness and Self-Acceptance” karya Shelley H Carson dan Ellen Langer (2006). Salah satu aspek penting dari penerimaan diri adalah kemampuan dan kemauan untuk membiarkan orang lain melihat diri yang sebenarnya.

Diri yang hilang dapat hadir ketika kita bergegas menciptakan perubahan dalam hidup, utamanya ketika kita tidak memiliki petunjuk tentang apa yang 'harus' dilakukan. Pada awalnya, mungkin tampak normal. Namun, kemarahan dan frustrasi perlahan-lahan akan menguasai ketika kita tersadar bahwa diri sedang menjalani kehidupan yang tidak diinginkan.

And now here we are: gagasan menemukan diri sendiri berarti membuka potensi kita untuk benar-benar mencapai apa pun yang kita fokuskan.

Selamat hari Ahad! Mari membenahi diri bersama-sama.

DHIORNIKI 🌺

 

 

 

INDONESIA (BELUM) MERDEKA

 


Senin, 17 Agustus 2020

 “Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta, apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, daripada makan bistik tapi budak.”

─Ir. Soekarno

Hiruk pikuk perayaan kemerdekaan telah membanjiri kota dan pelosok di seluruh Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan bendera merah putih yang tergantung di setiap sudut rumah tepat sejak dimulainya bulan Agustus. Berbagai cara dilakukan demi menyemarakkan perayaan yang ada, entah pelaksanaan upacara seremonial pengibaran bendera, pengadaan lomba-lomba, foto dan video bertemakan kemerdekaan yang tersebar luas di jagad sosial media, dan lain sebagainya.

Kemerdekaan merupakan hak segala bangsa, oleh sebab itulah penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Namun, menilik kondisi Indonesia saat ini, apakah kata ‘merdeka’ itu sudah tersandang sempurna?

Perlu diingat bahwa kemerdekaan bukanlah sebuah slogan.

Dengan mengantongi usia yang tidak lagi muda, 75 tahun, Indonesia sudah sepatutnya menuai banyak impian yang sejak dulu diimpikan. Mengingat sumber daya alam yang melimpah ruah, hal itu tentu bukanlah masalah besar. Sayangnya, fakta di lapangan tampak tidak sependapat. Kita harus menyadari bahwa Indonesia belum merdeka secara non-fisik. Betapa tidak, kekuatan asing merajalela dengan konsep neo imperialisme. Tepat adanya bahwa kita berada di zaman di mana semua negara saling berintegrasi secara global, tetapi hal itu tidak berarti bahwa berbagai aset bangsa bisa dijual sesukanya. Para pemangku kekuasaan sejatinya adalah mereka yang bisa dipercaya, namun entah mengapa kehadirannya di mata rakyat Indonesia bak musuh bebuyutan.

Ketidakpercayaan rakyat tidak terlepas dari kebiasaan pemerintah yang seringkali memusatkan perhatian pada dirinya (self-centered). Pemerintah cenderung abai bahwa rakyat memerlukan waktu dan persiapan untuk menerima kebijakan yang diputuskannya. Di sisi lain, aspirasi yang mengatasnamakan rakyat tersebut relatif mudah terdistorsi oleh aspirasi partai politik. Masalah yang ada ialah antara aspirasi rakyat dan partai politik terkadang tidak selaras satu sama lain. Betapa tidak, prioritas pemerintah justru condong ke kepentingan kelompoknya atau elite politik (res patricia).

Jika kata ‘merdeka’ hanya digaungkan sebagai slogan, maka antara cita-cita dan fakta yang terjadi sungguh membias. Dilansir oleh laman tirto.id, posisi hutang Indonesia per akhir Mei 2020 berada di angka Rp5.258,57 triliun. Angka ini naik dari posisi akhir April yang berkisar pada Rp5.172,48 triliun. Tidak hanya itu saja, di tengah pandemi yang ada, masalah pengangguran pun semakin memburuk. Menurut Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), capaian penurunan angka pengangguran dalam sepuluh tahun terakhir akan berbalik arah hingga menyentuh angka 12,7 juta orang.

Indonesia belum merdeka,

….dan kita harus menyadari hal tersebut dan bahu membahu untuk menindaklanjutinya.

Sebagai penulis setidaknya tidak kurang dari 228 kitab, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali ath-Thusi asy-Syafii atau yang kerap disapa sebagai Imam Ghazali membagi manusia menjadi empat golongan. Mereka adalah Rojulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri (seseorang yang berilmu dan dia mengerti), Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri (seseorang yang berilmu tanpa mengetahui bahwa dirinya mengerti), Rojulun Laa Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri (seseorang yang belum berilmu dan menyadari bahwa dirinya tidak mengerti), serta Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri (seseorang yang belum berilmu dan tidak menyadari bahwa dirinya tidak mengerti).

Imam Ghazali menyebutkan bahwa golongan keempat dari pembagian yang dirumuskannya adalah golongan manusia terburuk. Golongan ini senantiasa merasa mengerti dan memiliki ilmu, meski sejatinya ia tidak mengetahui apa-apa.

Hal yang sama akan terulang jika kita tidak menyadari keadaan yang sesungguhnya. Berselimutkan kata ‘merdeka’ yang ilusi, Indonesia akan begini-begini saja.

Generasi muda adalah harapan ibu pertiwi. Oleh karenanya, tugas kita bukanlah tugas ringan. Kita perlu bersama-sama merumuskan kemerdekaan dengan cerdas. Mengingat bahwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, kita harus terus mencarikan jalan terang bagi mereka yang tertindas. Tantangan lainnya, adalah membawa diri untuk tidak berpatokan pada slogan tanpa aksi nyata. Generasi muda sudah sepatutnya berpikir kritis dengan memperbanyak kegiatan membaca agar tidak teperdaya hoax yang berseliweran.

Barangkali, diri masih diselimuti kerisauan atas peran apa yang dapat dipilih…

…..namun, apapun yang terjadi, pastikan bahwa diri berjalan pada arah yang benar sesuai tuntunanNya.

Salam hangat dari saya, salah satu rakyat Indonesia.

Selamat Dirgahayu RI ke-75! Mari membenahi diri bersama-sama.

DHIORNIKI🌺

LIFE AFTER 20

 


Sunday, 2nd of August 2020

Life does not become simpler after our 20s.

How we cooked up the negative side of ourselves? Every choice we will do, the ball is in our court.

Life will never feel like it’s ‘supposed to’. Being more than twenty, something can feel like death by unmet expectations. It sounds pretty scary, but we certainly can’t pass this one without a struggle. It takes a commitment to keep on trying until something is ‘supposed to’ that we hope continually becomes reality.

Merry Riana once said “never stop fighting on something you can’t go a day without thinking about”, and it’s true. Success after our  20s is more about setting the table than enjoying the feast. It means how we start to take responsibility for ourselves. In fact, it tends to become much more complex with the additional facets of life that we face. We must realize that the things that we took for granted growing up didn’t happen by magic, there’s a price to pay.

Life can get simpler, if that’s an objective of ours, though many people choose to complicate their lives for the sake of other objectives.

يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

 (الرعد : 39)

Its meaning:

Allah eliminates what He wills or confirms, and with Him is the Mother of the Book.

(Ar-Ra’d : 39)

Some mufassir argued with each other about this verse, but they assigned that Allah is the One who set all matters of sunnah (law). When various kinds of fears obscure the situation  nowadays, we must realize that effort is not enough. Du’a is also needed as the strength of a believer to change his destiny that has been outlined. A simple reason, because Allah is able to remove everything He wants, except life, death, suffering, and happiness.

Realize that no matter what point in life we are in, we will always experience ups and downs. And that’s okay! After all, we are just humans in a constant state of worry. Being vulnerable is not a crime, because vulnerability itself is our most accurate measurement of courage.

That’s something to be highlighted.

Rediscover our purpose and regain our passion.

…..and seek Him for help. Allah will always listen to our du’a.

Happy Sunday, everyone! Let’s evaluate ourselves together.

DHIORNIKI🌺

.


Ahad, 2 Agustus 2020

Kehidupan tidak beringsut jauh lebih mudah setelah usia 20 tahun-an.

Bagaimana cara kita menghadapi sisi negatif diri? Untuk semua pilihan yang akan kita lakukan, keputusan mutlak tergantung bagaimana diri menentukan.

Kehidupan tidak akan pernah seperti apa yang ‘seharusnya’. Menjadi sosok yang berusia lebih dari 20 tahun, segala sesuatu bak momok menakutkan dengan harapan yang tidak terpenuhi. Terdengar cukup menyeramkan, namun kita tentu tidak bisa melewati fase ini tanpa perjuangan. Dibutuhkan komitmen untuk terus berusaha hingga sesuatu ‘seharusnya’ yang kita harapkan dapat mencapai kenyataan.

Merry Riana pernah mengatakan “never stop fighting on something you can’t go a day without thinking about”, dan hal itu tepat adanya. Sukses setelah usia 20-an lebih pada cara kita mengatur meja daripada menikmati pesta. Itu bermakna pada bagaimana kita mulai bertanggung jawab atas diri sendiri. Bahkan, sesuatu tersebut akan beranjak jauh lebih kompleks dengan sisi kehidupan tambahan yang kita hadapi. Kita harus menyadari bahwa hal-hal yang diterima begitu saja tidak tumbuh dengan keajaiban, ada harga yang harus dibayar.

Kehidupan bisa saja terasa lebih sederhana, jika hal itu adalah tujuannya, walaupun banyak orang memilih untuk mempersulit hidup mereka untuk tujuan tertentu.

 

يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

 (الرعد : 39)

 

Artinya:

Allah menghapuskan apa yang Ia kehendaki dan menetapkan (apa yang Ia kehendaki), dan di sisi-Nya lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).

(Ar-Ra’d : 39)

Beberapa ulama tafsir berselisih pendapat mengenai firman Allah yang satu ini, namun mereka meriwayatkan bahwa Allah-lah yang mengatur segala urusan sunnah (hukum). Tatkala berbagai jenis ketakutan memperkeruh keadaan di usia yang beranjak dewasa ini, kita perlu menyadari bahwa usaha saja tidak cukup. Diperlukan pula kehadiran doa sebagai kekuatan orang yang beriman untuk mengubah takdir yang telah digariskan. Alasannya sederhana, karena Allah mampu menghapus segala sesuatu yang dikehendakiNya, terkecuali hidup, mati, celaka, dan bahagia.

Sadarilah bahwa di mana pun kita berada, kita akan terus mengalami pasang surut. And that’s okay! Betapa tidak, kita hanyalah manusia yang selalu dirundungi kekhawatiran. Menjadi rentan secara psikologis bukanlah suatu kejahatan, karena kerentanan itu sendiri adalah ukuran keberanian kita yang terakurat.

That’s something to be highlighted.

Temukanlah tujuan dan dapatkanlah semangat itu kembali.

…dan memohonlah bantuan kepadaNya, Allah akan selalu mendengarkan do’a kita.

Selamat hari Ahad! Mari membenahi diri bersama-sama.

DHIORNIKI🌺

((ps. : tulisan hangat ini ditulis oleh remaja ingusan yang menginjak 22 tahun pada 23 Juli 2020 silam))

 

 

 

THE THEORY OF ACCEPTANCE



Sunday, 26th of July 2020



“Acceptance not only boosts positive self-esteem, but it teaches us how to manage conflict and build healthy relationships.”

Accepting yourself and others are not as easy as turning your palm, there are many things that are not as expected. In fact, it’s so common when we feel confused about where and how to position ourselves. Reality comes as an endless calamity and it often happens. There is only regret because people around us don’t appreciate us like what had been imagined before.

Mostly teenagers today are killed by a strange sense to reach ‘the standards’ of a community. If we are one of them, hopefully the gap of self-rejection won’t widen. On many occasions, those who often feel this are very vulnerable emotionally provoked. Categorized as a highly sensitive person, Dr. Elaine Aron (1997) defines him as a person who has awareness of the small things around him. Who is also more easily overwhelmed when he is an environment that stimulates his senses.
We’re all beautiful messes.
Realities that do not work as expected are truly painful, but it’s normal when a highly sensitive person takes longer to be haunted by his regret and guilt. But, it would be more frightening if we see that reality as something with bad value to ourselves. Indeed, if it’s done perfectly, that negative energy can give us the opportunity to grow and improve ourselves continually.
Involve Allah, so you don’t do the acceptance process alone.
Acceptance and self-love is the first step to keeping conflict in check. It allows conflict to occur without allowing unforgivingness to take root. Furthermore, if the old process is carried out alone, now is the right time to involve Allah in every struggle towards our dreams. Allah SWT even said that He would not let anyone who believed in Him be suffered by sorrow and sadness.

وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

(العمران : 139)

Its meaning:

“So don’t weaken and don’t grieve, and you will be superior if you are (true) believers.”
(Al-Imran: 139)

Besides involving Him, the process of acceptance will feel more meaningful when we change our mindset. Diverting thoughts when we desire to judge others so much is the right key. Sometimes, we need to position ourselves as a certain figure to explore the interesting things that can make us accept the situation. Next, instead of focusing on why someone is different, it’s better for us to focus on the kindness he did.

Addressing the world in black and white in understanding the truth and fault is normal. However, it can’t always be applied.

There are some things that don’t have to be true or false if we choose to accept what we are. So, involve Allah.

We are not always good, but don’t ever stop trying.

Happy Sunday, everyone! Let’s evaluate ourselves together.

DHIORNIKI🌺

.


Ahad, 26 Juli 2020

“Proses penerimaan tidak hanya meningkatkan positive self-esteem, pun mengajarkan bagaimana penyelesaian konflik dan membangun hubungan yang sehat.”
Menerima diri sendiri dan orang lain tidak semudah membalikkan telapak tangan, ada-ada saja hal yang tidak sesuai ekspektasi. Bahkan, untuk menerima diri sendiri, kita tidak jarang kebingungan atas di mana dan bagaimana diri harus ditempatkan. Seringkali terjadi, realita hadir sebagai sebuah  malapetaka panjang yang tak berkesudahan. Apa yang ada hanya disesali, karena orang di sekitar tidak mengapresiasi kehadiran kita seperti apa yang telah dibayangkan sebelumnya.
Banyak di antara remaja masa kini terbunuh rasa asing untuk memenuhi ‘standarisasi’ suatu komunitas. Jika kita adalah salah satunya, semoga jurang penolakan atas diri tidak semakin melebar. Pada banyak kesempatan, mereka yang sering merasakan hal ini sangat rentan terpancing secara emosional. Dikategorikan sebagai highly sensitive person, Dr. Elaine Aron (1997) mendefinisikannya sebagai orang yang memiliki kesadaran terhadap hal-hal kecil di sekelilingnya dan lebih mudah merasa kewalahan ketika berada di lingkungan yang sangat menstimulasi indranya.
We’re all beautiful messes.

Realita yang tidak berjalan sesuai ekspektasi sungguh menyakitkan, wajar jika highly sensitive person membutuhkan waktu jauh lebih lama ketika dihantui oleh penyesalan dan rasa bersalah. Namun, tentu akan lebih menakutkan jika kita memandang realita tersebut sebagai sesuatu yang bernilai buruk untuk diri. Sesungguhnya jika dibungkus dengan cara yang tepat, energi negatif yang ada dapat memberikan kesempatan  kita untuk terus berkembang dan memperbaiki diri.

Libatkanlah  Allah sehingga proses penerimaan tidak kamu lakukan seorang diri.

Penerimaan dan cinta untuk diri sendiri adalah langkah petama untuk menjaga konflik tetap terkendali. Hal itu memungkinkan konflik terjadi tanpa membiarkan rasa penolakan semakin berakar. Selanjutnya, jika dahulu proses tersebut dilakukan seorang diri, kini saatnya kita melibatkan Allah dalam setiap perjuangan menuju cita-cita. Allah SWT bahkan berfirman tidak akan membiarkan siapa saja yang beriman kepadaNya akan dirundungi oleh nestapa dan kesedihan.

وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

(العمران : 139)
Artinya:

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”
(Al-Imran : 139)

Selain melibatkanNya, proses penerimaan akan terasa lebih bermakna tatkala diri mengubah pola pikir. Mengalihkan pikiran ketika keinginan menghakimi orang lain menguap ke permukaan adalah kunci jitu. Terkadang, kita perlu memposisikan diri sebagai sosok tertentu untuk menelisik hal menarik apa yang bisa membuat diri menerima keadaan. Selanjutnya, alih-alih berfokus pada mengapa seseorang berbeda, ada baiknya kita berfokus pada kebaikan yang dilakukan orang tersebut.

Menyikapi dunia dalam warna hitam putih dalam memaknai benar dan salah adalah wajar adanya. Namun, tidak selamanya hal itu dapat diterapkan.

Ada beberapa hal yang tidak harus benar atau salah jika kita memilih untuk menerima apa adanya. Lalu, libatkan Allah.

Kita tidak selamanya baik, namun jangan pernah berhenti tuk mengusahakannya.

Selamat hari Ahad! Mari membenahi diri bersama-sama.

DHIORNIKI🌺

LIFE GOALS



Sunday, 19th July 2020


Man proposes, but Allah disposes. Everything that happens is Allah’s Will.

Living through the ups and downs of life is the process of following His surprises. Happiness, sadness, laugh, tears, worries, and the other feelings look like the spices. It’s reasonable if humans strive to reach their dreams. However, Allah always has His own way to make things feel more meaningful.

As we grow older, we don’t realize that happiness often disappears because of ourselves. That’s why the mind can’t be allowed to think without any control. Things that are absolute and innate again at issue, so it makes life motivation decreases. The result is we will lose our priority and productivity.

Then, what’s the solution to the existing problems?

Life goals are one of the solutions needed. By having the note about it, we are able to get to know his identity much deeper. Moreover, life goals drive our behaviors in the long run and help us determine what we want to experience.

So, can life goals promote happiness?

Everyone certainly dreamed of this and that, but unfortunately, not everyone dares to start it first. This one is troublesome, life goals have quite a crucial urgency. Our potential must be empowered to achieve a goal. Then, when we reached that goal, happiness will come by itself indirectly.

Life has a pattern.

The motto “man jadda wa jada” which means that struggle is an important point to get something is not a figment. Allah could not possibly be willing to let His servants who tried instead sink into failure. But, if in the end, the failure comes as a gift after a long struggle..

…believe, happiness has time.

In fact, every person has a different time frame. There is no one who is slower or deserves to be called a champion, because life is not competition. But, the process to happiness will be easily fulfilled with goals that are done with commitment. Besides believing that not every happiness can be achieved instantly, we need to understand that Allah’s Will is decisive. Humans can’t claim supremacy over Allah & whatever comes out as a result of humans’ intelligent pursuit can’t be claimed as his own doing without Allah’s intervention.

So, be faithful and Allah will fulfill everything according to level.

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Its meaning:

And whoever puts his trust in Allah, Allah will fulfill his needs.
(QS. Ath-Tholaq: 3)

Allah’s Will is done. Don’t worry about it not being done. They will be done. Humans often have the right to do something and hope what we did bring happiness, but whether it happens or not is up to Allah.

Set your life goals and contribute beyond yourself!

Happy Sunday! Let’s evaluate ourselves together.

DHIORNIKI🌺

.

Ahad, 19 Juli 2020

Man proposes, but Allah disposes. Everything that happens is Allah’s will.

Menjalani lika-liku kehidupan adalah proses meniti kejutan dariNya. Senang, sedih, tawa, tangis, khawatir, dan berbagai perasaan lainnya diibaratkan sebagai bumbu yang hadir menyertai. Wajar rasanya bila manusia berupaya keras untuk mendapatkan kejutan yang diimpikan. Namun, Allah selalu punya cara tersendiri untuk membuat segala sesuatu terasa lebih bermakna.

Semakin beranjak dewasa, tidak banyak yang menyadari bahwa kebahagiaan sering terkikis akibat diri sendiri. Betapa tidak, pikirannya dibiarkan berlari begitu saja di luar nalar. Hal-hal yang bersifat mutlak dan bawaan kembali dipermasalahkan sehingga motivasi hidup menurun. Alhasil, diri kehilangan prioritas dan berujung pada matinya produktivitas.

Lalu, apa jawaban atas problematika yang ada?

Life goals begitu biasa orang menyebutnya adalah satu dari sekian jawaban yang dibutuhkan. Dengan bermodalkan catatan yang berisi tujuan hidup tersebut, seseorang mampu mengenal jati dirinya jauh lebih dalam. Di sisi lain, life goals dapat mengendalikan perilaku seseorang dalam jangka panjang dan membantunya untuk menentukan hal-hal apa saja yang ingin ia alami.

Namun, apakah life goals bisa menciptakan kebahagiaan?

Semua orang tentu bermimpi ini dan itu, tapi sayangnya tidak banyak yang berani untuk mengambil pijakan awal. Hal ini meresahkan, itulah mengapa life goals memiliki urgensi yang cukup krusial. Potensi yang dimiliki harus diberdayakan untuk mencapai suatu tujuan. Lalu sesampainya di tujuan tersebut, secara tidak langsung kebahagiaan akan datang dengan sendirinya.

Kehidupan memiliki pola.

Semboyan “man jadda wa jada” yang bermakna bahwa kesungguhan adalah poin penting untuk mendapatkan sesuatu bukanlah isapan jempol. Allah tidak mungkin rela membiarkan hambaNya yang berusaha justru tenggelam dalam kegagalan. Namun, jika pada akhirnya kegagalan hadir sebagai hadiah setelah perjuangan panjang…

…percayalah, bahwa kebahagiaan ada waktunya.

Sejatinya, setiap raga bernyawa memiliki time-frame yang berbeda. Tidak ada yang lebih lambat atau pantas dikatakan juara, karena kehidupan bukanlah kompetisi. Hanya saja, proses menuju kebahagiaan akan mudah terkabul dengan tujuan yang diimbangi komitmen berusaha. Selain meyakini bahwa tidak semua kebahagiaan dapat diraih secara instan, kita perlu menyadari bahwa kehendak Allah sangat menentukan. Manusia tidak bisa mengatakan supremasi apapun atas Allah. Segala sesuatu yang lahir dari kecerdasan manusia bahkan melibatkan campur tanganNya.
Maka, bertawakkalah dan Allah akan mencukupkan segala sesuatu sesuai kadarnya.


وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ


Artinya:
Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.
(QS. Ath-Tholaq:3)

Kehendak Allah tepat adanya. Tidak perlu rasanya merisaukan sesuatu yang tidak mungkin tidak dilakukan. Manusia berhak melakukan sesuatu dan berharap apa yang ia lakukan mendatangkan kebahagian, tetapi terlepas hal itu akan terjadi atau tidak, itu tergantung yang Maha Esa.

Set your life goals and contribute beyond yourself!

Selamat hari Ahad! Mari membenahi diri bersama-sama.

DHIORNIKI🌺

Tags