Senin, 17 Agustus 2020
“Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe.
Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta, apalagi jika
bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik
makan gaplek tetapi merdeka, daripada makan bistik tapi budak.”
─Ir. Soekarno
Hiruk pikuk perayaan kemerdekaan telah membanjiri kota dan pelosok
di seluruh Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan bendera merah putih yang
tergantung di setiap sudut rumah tepat sejak dimulainya bulan Agustus. Berbagai
cara dilakukan demi menyemarakkan perayaan yang ada, entah pelaksanaan upacara
seremonial pengibaran bendera, pengadaan lomba-lomba, foto dan video bertemakan
kemerdekaan yang tersebar luas di jagad sosial media, dan lain sebagainya.
Kemerdekaan merupakan hak segala bangsa, oleh sebab itulah
penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Namun, menilik kondisi Indonesia
saat ini, apakah kata ‘merdeka’ itu sudah tersandang sempurna?
Perlu diingat bahwa kemerdekaan bukanlah sebuah slogan.
Dengan mengantongi usia yang tidak lagi muda, 75 tahun, Indonesia
sudah sepatutnya menuai banyak impian yang sejak dulu diimpikan. Mengingat sumber
daya alam yang melimpah ruah, hal itu tentu bukanlah masalah besar. Sayangnya, fakta
di lapangan tampak tidak sependapat. Kita harus menyadari bahwa Indonesia
belum merdeka secara non-fisik. Betapa tidak, kekuatan asing merajalela dengan
konsep neo imperialisme. Tepat adanya bahwa kita berada di zaman di mana semua
negara saling berintegrasi secara global, tetapi hal itu tidak berarti bahwa berbagai
aset bangsa bisa dijual sesukanya. Para pemangku kekuasaan sejatinya adalah
mereka yang bisa dipercaya, namun entah mengapa kehadirannya di mata rakyat
Indonesia bak musuh bebuyutan.
Ketidakpercayaan rakyat tidak terlepas dari kebiasaan pemerintah
yang seringkali memusatkan perhatian pada dirinya (self-centered).
Pemerintah cenderung abai bahwa rakyat memerlukan waktu dan persiapan untuk
menerima kebijakan yang diputuskannya. Di sisi lain, aspirasi yang
mengatasnamakan rakyat tersebut relatif mudah terdistorsi oleh aspirasi partai
politik. Masalah yang ada ialah antara aspirasi rakyat dan partai politik
terkadang tidak selaras satu sama lain. Betapa tidak, prioritas pemerintah
justru condong ke kepentingan kelompoknya atau elite politik (res patricia).
Jika kata ‘merdeka’ hanya digaungkan sebagai slogan, maka antara cita-cita
dan fakta yang terjadi sungguh membias. Dilansir oleh laman tirto.id, posisi hutang
Indonesia per akhir Mei 2020 berada di angka Rp5.258,57 triliun. Angka ini naik
dari posisi akhir April yang berkisar pada Rp5.172,48 triliun. Tidak hanya itu
saja, di tengah pandemi yang ada, masalah pengangguran pun semakin memburuk.
Menurut Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), capaian penurunan
angka pengangguran dalam sepuluh tahun terakhir akan berbalik arah hingga menyentuh
angka 12,7 juta orang.
Indonesia belum merdeka,
….dan kita harus menyadari hal tersebut dan bahu membahu untuk menindaklanjutinya.
Sebagai penulis setidaknya tidak kurang dari 228 kitab, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali ath-Thusi
asy-Syafii atau yang kerap disapa sebagai Imam Ghazali membagi manusia menjadi empat
golongan. Mereka adalah Rojulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri (seseorang
yang berilmu dan dia mengerti), Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri
(seseorang yang berilmu tanpa mengetahui bahwa dirinya mengerti), Rojulun
Laa Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri (seseorang yang belum berilmu dan
menyadari bahwa dirinya tidak mengerti), serta Rojulun Laa Yadri wa Laa
Yadri Annahu Laa Yadri (seseorang yang belum berilmu dan tidak menyadari
bahwa dirinya tidak mengerti).
Imam Ghazali menyebutkan bahwa golongan keempat dari pembagian yang
dirumuskannya adalah golongan manusia terburuk. Golongan ini senantiasa merasa
mengerti dan memiliki ilmu, meski sejatinya ia tidak mengetahui apa-apa.
Hal yang sama akan terulang jika kita tidak menyadari keadaan yang
sesungguhnya. Berselimutkan kata ‘merdeka’ yang ilusi, Indonesia akan begini-begini
saja.
Generasi muda adalah harapan ibu pertiwi. Oleh karenanya, tugas
kita bukanlah tugas ringan. Kita perlu bersama-sama merumuskan kemerdekaan
dengan cerdas. Mengingat bahwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,
kita harus terus mencarikan jalan terang bagi mereka yang tertindas. Tantangan
lainnya, adalah membawa diri untuk tidak berpatokan pada slogan tanpa aksi
nyata. Generasi muda sudah sepatutnya berpikir kritis dengan memperbanyak
kegiatan membaca agar tidak teperdaya hoax yang berseliweran.
Barangkali, diri masih diselimuti kerisauan atas peran apa
yang dapat dipilih…
…..namun, apapun yang terjadi, pastikan bahwa diri berjalan
pada arah yang benar sesuai tuntunanNya.
Salam hangat dari saya, salah satu rakyat Indonesia.
Selamat Dirgahayu RI ke-75! Mari membenahi diri bersama-sama.
DHIORNIKI


0 Comments:
Post a Comment