“Acceptance not only boosts positive self-esteem, but it teaches us
how to manage conflict and build healthy relationships.”
Accepting
yourself and others are not as easy as turning your palm, there are many things
that are not as expected. In fact, it’s so common when we feel confused about
where and how to position ourselves. Reality comes as an endless calamity and
it often happens. There is only regret because people around us don’t appreciate
us like what had been imagined before.
Mostly
teenagers today are killed by a strange sense to reach ‘the standards’ of a
community. If we are one of them, hopefully the gap of self-rejection won’t
widen. On many occasions, those who often feel this are very vulnerable
emotionally provoked. Categorized as a highly sensitive person, Dr. Elaine Aron
(1997) defines him as a person who has awareness of the small things around
him. Who is also more easily overwhelmed when he is an environment that
stimulates his senses.
We’re all beautiful messes.
Realities that do not work as expected are truly painful, but it’s
normal when a highly sensitive person takes longer to be haunted by his regret
and guilt. But, it would be more frightening if we see that reality as
something with bad value to ourselves. Indeed, if it’s done perfectly, that
negative energy can give us the opportunity to grow and improve ourselves continually.
Involve Allah, so you don’t do the acceptance process alone.
Acceptance and self-love is the first step to keeping conflict in
check. It allows conflict to occur without allowing unforgivingness to take
root. Furthermore, if the old process is carried out alone, now is the right
time to involve Allah in every struggle towards our dreams. Allah SWT even said
that He would not let anyone who believed in Him be suffered by sorrow and
sadness.
وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ
ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
(العمران : 139)
(العمران : 139)
Its
meaning:
“So don’t
weaken and don’t grieve, and you will be superior if you are (true) believers.”
(Al-Imran:
139)
Besides
involving Him, the process of acceptance will feel more meaningful when we
change our mindset. Diverting thoughts when we desire to judge others so much
is the right key. Sometimes, we need to position ourselves as a certain figure
to explore the interesting things that can make us accept the situation. Next,
instead of focusing on why someone is different, it’s better for us to focus on
the kindness he did.
Addressing
the world in black and white in understanding the truth and fault is normal.
However, it can’t always be applied.
There
are some things that don’t have to be true or false if we choose to accept
what we are. So, involve Allah.
We
are not always good, but don’t ever stop trying.
Happy
Sunday, everyone! Let’s evaluate ourselves together.
DHIORNIKI
.
Ahad, 26 Juli 2020
“Proses penerimaan tidak hanya meningkatkan positive self-esteem,
pun mengajarkan bagaimana penyelesaian konflik dan membangun hubungan yang
sehat.”
Menerima diri sendiri dan orang lain tidak semudah membalikkan
telapak tangan, ada-ada saja hal yang tidak sesuai ekspektasi. Bahkan, untuk
menerima diri sendiri, kita tidak jarang kebingungan atas di mana dan bagaimana
diri harus ditempatkan. Seringkali terjadi, realita hadir sebagai sebuah malapetaka panjang yang tak berkesudahan.
Apa yang ada hanya disesali, karena orang di sekitar tidak mengapresiasi
kehadiran kita seperti apa yang telah dibayangkan sebelumnya.
Banyak di antara remaja masa kini terbunuh rasa asing untuk
memenuhi ‘standarisasi’ suatu komunitas. Jika kita adalah salah satunya, semoga
jurang penolakan atas diri tidak semakin melebar. Pada banyak kesempatan,
mereka yang sering merasakan hal ini sangat rentan terpancing secara emosional.
Dikategorikan sebagai highly sensitive person, Dr. Elaine Aron (1997)
mendefinisikannya sebagai orang yang memiliki kesadaran terhadap hal-hal kecil
di sekelilingnya dan lebih mudah merasa kewalahan ketika berada di lingkungan
yang sangat menstimulasi indranya.
We’re all beautiful messes.
Realita
yang tidak berjalan sesuai ekspektasi sungguh menyakitkan, wajar jika highly
sensitive person membutuhkan waktu jauh lebih lama ketika dihantui oleh
penyesalan dan rasa bersalah. Namun, tentu akan lebih menakutkan jika kita
memandang realita tersebut sebagai sesuatu yang bernilai buruk untuk diri. Sesungguhnya
jika dibungkus dengan cara yang tepat, energi negatif yang ada dapat
memberikan kesempatan kita untuk terus
berkembang dan memperbaiki diri.
Libatkanlah
Allah sehingga proses penerimaan tidak
kamu lakukan seorang diri.
Penerimaan
dan cinta untuk diri sendiri adalah langkah petama untuk menjaga konflik tetap
terkendali. Hal itu memungkinkan konflik terjadi tanpa membiarkan rasa
penolakan semakin berakar. Selanjutnya, jika dahulu proses tersebut dilakukan
seorang diri, kini saatnya kita melibatkan Allah dalam setiap perjuangan menuju
cita-cita. Allah SWT bahkan berfirman tidak akan membiarkan siapa saja yang
beriman kepadaNya akan dirundungi oleh nestapa dan kesedihan.
وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ
ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
(العمران : 139)
(العمران : 139)
Artinya:
“Janganlah
kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah
orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang
beriman.”
(Al-Imran
: 139)
Selain
melibatkanNya, proses penerimaan akan terasa lebih bermakna tatkala diri mengubah
pola pikir. Mengalihkan pikiran ketika keinginan menghakimi orang lain menguap
ke permukaan adalah kunci jitu. Terkadang, kita perlu memposisikan diri sebagai
sosok tertentu untuk menelisik hal menarik apa yang bisa membuat diri menerima
keadaan. Selanjutnya, alih-alih berfokus pada mengapa seseorang berbeda, ada
baiknya kita berfokus pada kebaikan yang dilakukan orang tersebut.
Menyikapi
dunia dalam warna hitam putih dalam memaknai benar dan salah adalah wajar
adanya. Namun, tidak selamanya hal itu dapat diterapkan.
Ada
beberapa hal yang tidak harus benar atau salah jika kita memilih untuk
menerima apa adanya. Lalu, libatkan Allah.
Kita
tidak selamanya baik, namun jangan pernah berhenti tuk mengusahakannya.
Selamat
hari Ahad! Mari membenahi diri bersama-sama.
DHIORNIKI


0 Comments:
Post a Comment