CORETAN ANAK RANTAU (THE SCRATCH OF A SETTLED FOREIGNER)

Jum'at, 6 September 2019

CORETAN ANAK RANTAU



Bagi seorang anak rantau, tidak ada hal yang lebih dirindukan selain hangatnya pelukan sanak keluarga. Momen liburan bak sebuah permata yang berpendar hebat tak berkesudahan. Hal itu wajar saja, rindu yang tertimbun semakin meluap tatkala pertemuan yang diimpikan kini di depan mata.

Perihal rindu, tanyakan kepada mereka yang memilih merantau. Karena merekalah ahlinya.

Ungkapan di atas benar adanya. Tepat seusai berakhirnya momen liburan, rindu itu kembali tertabung. Lalu menunggu berhari-hari setelahnya untuk dipecahkan bersama.

Fakta mengisahkan bahwa hari-hari yang berlalu lambat membawa anak rantau menuju kemandirian. Entah disadari atau tidak, kemandirian tersebut lantas menggiring mereka pada susunan idealisme yang tanpa sengaja terbangun dengan sendirinya.

Hal itu disebabkan oleh betapa hebatnya kemampuan anak rantau dalam mencari celah. Meski di tengah pelukan erat sang waktu dan ritme kehidupan yang membosankan, anak rantau selalu memiliki cara tersendiri demi menguatkan rapuhnya jiwa mereka.

Sebut saja usaha menciptakan kenyamanan baru di tanah rantau. Dengan mengikis ego dan melayangkan sebuah tawa, anak rantau berusaha sekuat tenaga tuk menyembunyikan rindu yang sempat menancap kuat di kampung halaman.

Hal itu tercatat dalam syair Arab yang berbunyi :

سافر تجد عوضا عمن تفارقه # وانصب فان لذيذ العيش في النصب

Artinya :

Pergilah kau, kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah berjuang.

Mereka yang asing, kini beranjak bising.

Berbagai candaan yang terlempar antara anak rantau dan berbagai orang asing yang baru ia kenal nyatanya mampu meredakan lara, meski belum kunjung menyembuhkannya. Anak rantau memang dituntut hebat. Mau tidak mau. Siap tidak siap.

Tanah rantau yang membisu berperan apik sebagai saksi kehidupan atas lara yang ada. Berbagai aksi dan ambisi selalu diperhatikannya tanpa berkomentar. Jika ribuan pasang mata mengatakan bahwa tanah rantau jauh lebih berkesan daripada kampung halaman, ungkapan tersebut tidak bisa dielakkan.

Anak rantau dan tanah rantau yang ia pijak merupakan satu kesatuan tak terpisahkan. Keduanya adalah nada yang berjalan beriringan menyusun sebuah harmoni. Lalu, berbagai kisah yang tertoreh adalah bukti nyata perjuangan anak rantau dalam mendamaikan polemik yang berkecamuk di relung hatinya.

Kampung halaman jelas tidak akan tergantikan. Ia selamanya disana, menunggu kepulangan anak rantau sebari terus mendoakan.

Pun tanah rantau. Ia selamanya disana, menunggu kepulangan anak rantau sebari terus mendoakan.

Namun, keduanya tentu memiliki esensi yang berbeda. Maka merantaulah, agar kamu mengetahui perbedaannya.

DHIORNIKI 🌺

-


Friday, 6th of September 2019

THE SCRATCH OF A SETTLED FOREIGNER

For a settled foreigner, there is nothing more missed than the warm embrace of his family. Holiday moments like an endless glowing gem. It happened because the longing that buried increasingly overflowed when the dreamed meeting is now in plain sight.

Regarding the longing, ask those who choose to travel. Because they are the experts.

The above expression is true. Right after the end of the holiday moment, his longing was saved again. Then, it will wait for a couple days to be solved together.

The fact about the days gone by slowly bring foreigner who settled to independence. Whether he realized it or not, this independence then leads him to the idealism which is accidentally built by itself.

That’s caused by how great the ability of a foreigner who settled in looking for gaps.

Although in the midst of a tight embrace of time and a boring rhythm of life, a settled foreigner always has his own ways to strengthen the fragility of his soul.

Let’s say about his effort to create a new comfort in the foreign city. By scraping the ego and laughing, the settled foreigner tries his best to hide the homesickness that had stuck strongly in his hometown.

That was recorded in the Arabic poem which reads:

سافر تجد عوضا عمن تفارقه # وانصب فان لذيذ العيش في النصب

The meaning :

Go travel, you will get a replacement from your family and friends. So get tired, the sweetness of life feels after your struggle.

Those who are strangers, now getting noisy.

Various jokes that were thrown between a settled foreigner and various strangers he had just met were in fact capable to ease the sickness, although they had not yet healed it. Settled foreigners are demanded great. Whether you want it or not.

Ready, or not.

The silent foreign city has a neat role as a witness of life. Various actions and ambitions are always heeded without commenting. If thousands of pairs of eyes say that foreign city is more memorable than home, the phrase can’t be blamed.

A settled foreigner and the foreign city that he took is an inseparable unity. Both of them are notes that go together to compose harmony. Then, the various incised stories are clear evidence of the struggle of settled foreigners in reconciling polemic that raged in the recesses of their hearts.

The hometown is clearly irreplaceable. It was forever there, waiting for the return of the settled foreigner while continuing to pray.

Foreign city also did it. It was forever there, waiting for the return of the settled foreigner while continuing to pray.

However, both of them certainly have a different essence. Then go travel, so you know the difference.

DHIORNIKI 🌺

1 Comments:

  1. Bnyk yg memilih mnjadi perantau, sebab bnyk luka di kampung halaman,
    Perantauan slh satu jalan mnghapus luka itu.

    ReplyDelete

Tags