“Some people don’t wear masks, you just don’t really know them.”
Unraveling identity is certainly endless.
It’s like a tree that continues to bear the fruits, there are so many
interesting topic discussions about identity. The discussion is getting more
interesting because of the people’s dynamic movement. That’s not surprising if this movement will
no doubt have an impact on existing identity. But in fact, with the various
ease of accessing information, it doesn’t mean we are able to easily understand
someone’s identity. We don’t really know someone without knowing what he did
when he was alone.
Everyone has secrets.
Let’s say it’s a lie if someone never hides
secrets for himself. How great his ability to live in relationships, every soul must agree that he needs a break for himself. Precisely, that’s the time when the
various secrets he kept tightly slowly revealed. Then, in the boundless space
which he created, it was officially intended for himself. Yap, it’s about a
secret. Because he doesn’t want anyone knows it.
“I” is what “I” do when I am alone. That’s
why Ali ibn Abi Tholib insisted not to believe and hope too much to people. The
truth said, he has felt all the bitterness of life and the bitterest is hoping
to people. Maybe, people are not always wrong, but it doesn’t mean that they always
do the right. The perfect truth belongs only to Him.
عَنْ ثَوْبَانَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ : « لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا ». قَالَ ثَوْبَانُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. قَالَ : « أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ » جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا
The translation :
“From Tsauban from the Prophet Muhammad
SAW, he said “I really know some people of mine come to the Day of Judgment
with a lot of kindness such as a Mount Tihamah. But, Allah made his kindness
into the scattered dust.”
Tsauban said, “Oh The Messenger of Allah,
try to mention their characteristics, please. So, we will not become like them
while we don’t know.”
Rasulullah Sallallaahu ‘Alayhi Wa Sallam
said “They are your brothers who are having skin as same as yours. They enliven
the night (with worship) like you. But, they are the people who if they are
alone, they tear the curtain to be able to worship Allah.”
(Narrated by Ibnu Majah 4242)
From the above explanation then there is
one more question, “Isn’t it okay if we create secrets that don’t make any
problem to the others?”
Surely that’s okay, just go ahead. However,
what if the secrets themselves are actually troubling yourself? Imagine the
secrets that are hidden in something that makes Him upset. It needs to be
implanted in ourselves that Allah always witnesses various things, including
things that we don’t tell the others.
Therefore, the feeling of being watched by Him
is something that must be instilled. Tell ourselves that fear of Him is the
reason why some things are not done deliberately.
إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِين
The translation :
I fear Allah truly, the Lord of the
Universe.
Written in a book by Michel Faucault that
there is a strong relationship between the existence of ‘pouvoir’ (power) and ‘savoir’
(knowledge). He also added in his book about the concept of ‘The Eye of Power :
Panopticon’. The meaning of ‘Panopticon’ concept is how big the amount of power
will influence a group of people to feel constantly monitored. This feeling of
being watched makes a constant habit, in spite of the severing power of
supervision.
This one should be the main point.
Obedience will form by itself when someone is always aware that there is Allah
SWT who is always watching the behavior of all His servants. Yes, Allah is watching.
Make a secret when you are alone as
something that able to become a bridge to heaven. If life is not to worship
Him, then what for?
Our existence and various things that we do
in this world must be Lillah.
Happy Friday, everyone! Let’s evaluate
ourselves together.
.
The Things That You Do When You Are Alone
Defines You
(Segala Sesuatu yang Kamu Lakukan Ketika
Sendirian Mendefiniskanmu)
Jum'at, 21 Februari 2020.
“Beberapa orang tidak menggunakan topeng, hanya saja kamu tidak
benar-benar mengenalnya.”
Mengulik perihal identitas tentu tak ada
habisnya. Selayaknya sebatang pohon yang terus berbuah, ada-ada saja pembahasan
menarik mengenai identitas. Pembicaraan itu semakin menarik karena pergerakan
manusia yang selalu dinamis. Tidak mengherankan jika pergerakan manusia itu berdampak
pada identitas yang ada. Namun faktanya, dengan berbagai kemudahan mengakses
informasi, tidak berarti kita mampu dengan mudahnya memahami identitas
seseorang. Kita tidak benar-benar mengenal seseorang tanpa mengetahui apa
yang dilakukannya ketika seorang diri.
Everyone has secrets.
Bohong jika sesorang tidak pernah
menyembunyikan rahasia teruntuk dirinya sendiri. Seberapa hebat kemampuannya
dalam meniti pergaulan, setiap raga bernyawa harus setuju bahwa ia membutuhkan
waktu untuk diri sendiri. Tepatnya, pada waktu itulah berbagai rahasia yang ia
jaga erat perlahan terbongkar. Lalu, di ruang tanpa batas yang ia ciptakan
telah resmi ditujukan untuk dirinya sendiri. Iya, perihal sebuah rahasia.
Karena ia tidak menginginkan seorang pun mengetahuinya.
‘Aku’ adalah apa yang ‘aku’ lakukan ketika
seorang diri. Itulah mengapa Ali bin Abi Tholib menegaskan untuk tidak terlalu
percaya dan berharap kepada manusia. Karena sejatinya, ia pernah merasakan
semua kepahitan dalam hidup dan yang terpahit ialah berharap kepada manusia.
Mungkin saja, manusia tidak melulu salah, namun bukan berarti ia selamanya
benar. Kebenaran yang sempurna hanyalah milikNya.
عَنْ ثَوْبَانَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ : « لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا ». قَالَ ثَوْبَانُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. قَالَ : « أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ » جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا
Artinya
:
Dari
Tsauban, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Sungguh aku
mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak
kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut
menjadi debu yang bertebaran.”
Tsauban
berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya
kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya.”
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian.
Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan
ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersepian
mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah.”
(HR.
Ibnu Majah no. 4245)
Dari ayat di atas lalu muncullah sebuah
pertanyaan, “Bukankah tidak mengapa jika kita menciptakan rahasia yang tidak
menyusahkan orang lain hanya kepada diri sendiri?”
Tentu tidak mengapa, sungguh dipersilahkan.
Namun, bagaimana jadinya jika rahasia itu justru menyusahkan diri sendiri?
Betapa tidak, rahasia yang disembunyikan itu ialah sesuatu yang membuatNya
kesal. Perlu rasanya ditanamkan dalam diri bahwa Allah selalu menyaksikan
berbagai hal, termasuk hal-hal yang tidak kita kisahkan kepada orang lain.
Oleh karenanya, perasaan merasa diawasi
olehNya adalah sesuatu yang harus ditanamkan. Katakan kepada diri bahwa rasa
takut kepadaNya adalah alasan mengapa beberapa hal sengaja tidak kita lakukan.
إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ
Artinya :
Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan Semesta
Alam
Dalam buku yang ditulis oleh Michel
Faucault pula dipaparkan adanya relasi yang kuat antara ‘pouvoir’ (kekuatan)
dan savoir (pengetahuan). Ia juga menambahkan di bukunya perihal konsep ‘The
Eye of Power : Panopticon”. Hal yang dimaksudkan dalam konsep ‘Panopticon’ itu
adalah besarnya pengaruh kekuasaan terhadap suatu kelompok sehingga membuatnya merasa
terus diawasi. Perasaan sedang diawasi ini melahirkan kebiasaan yang kontinyu,
kendati kekuasaan pengawasan diskontinyu.
Hal inilah yang seharusnya menjadi poin
utama. Kepatuhan akan terbentuk dengan sendirinya tatkala diri senantiasa sadar
bahwa ada Dzat Maha Esa, Allah SWT yang selalu mengawasi perilaku semua
hambanya. Iya, Allah is watching.
Ciptakanlah sebuah rahasia tatkala seorang diri
sebagai sesuatu yang mampu menjadi jembatan ke surgaNya. Jika hidup ini bukan
untuk beribadah kepadaNya, lalu untuk apa?
Kehadiran kita di dunia dan berbagai hal
yang harus kita lakukan di dunia harus Lillah.
Selamat hari Jum'at! Mari membenahi diri
bersama-sama.
DHIORNIKI


What an awesome article!!! Please continue your awesome job and may Allah bless you.
ReplyDeletemay Allah protect you wherever you are, keep going on sharing kindness.
ReplyDelete