Senin, 30 Juli 2018
Seiring berjalannya waktu, manusia akan paham betapa berharganya seorang teman dalam kehidupan. Seorang teman yang baik tentunya akan membawa kita menjadi pribadi lebih baik, begitupun sebaliknya.
Namun, dengan menilik fakta tersebut, sebagai manusia kita tidak boleh menghakimi seseorang atas penilaian sekilas. Seringkali, kita terjebak sebuah pencitraan semata. Contoh kecil tersebut ialah media sosial. Dengan mudahnya kita menghakimi seseorang yang belum kita kenal dengan baik, dikarenakan beberapa postingan di media sosial. Padahal sudah jelas hukumnya bahwa su'udzhon adalah perbuatan berdosa. Dan apasih yang sebenernya manusia ketahui?
Saya sebagai manusia yang penuh kekurangan pun pernah merasa demikian. Ketika iman saya sedang naik, ingin rasanya melakukan ibadah lebih. Seperti puasa sunnah, sholat rawatib, dan lain sebagainya. Tanpa sengaja, ketika saya melihat orang lain yang tidak bertindak demikian, hati saya bertanya menghakimi.
"Eh kok dia kayak gitu sih orangnya?"
Perasaan inilah yang keliru, gengs.
Jika mungkin salah seorang dari kita mulai merasa lebih baik dari orang lain, mari lekas-lekas memarahi diri sendiri. Karena toh, kita tidak pernah mampu mengukur keimanan seseorang atas apa yang kita lihat semata. Bisa jadi, orang yang kita hakimi adalah orang yang mudah memaafkan dan memiliki kadar iman yang lebih tinggi. Namun, jika kita "tetap" memelihara perilaku tersebut, bisa-bisa kita akan menjadikan ibu kita sebagai objek kesalahan.
Na'udzubillahi min dzalik.
Oleh karena itu, jika kita melihat setitik kesalahan pada diri seseorang, maka mari mengambil pelajaran dan ingatkanlah ia. Jika kita tidak sanggup mengingatkan, maka doakanlah. Karena manusia tidak terlahir sempurna, melainkan saling menyempurnakan.
Selamat hari Senin! Mari membenahi diri bersama-sama.
DHIORNIKI🌺

0 Comments:
Post a Comment