#SINGLELILLAH (part 1)

Senin, 29 Oktober 2018

"Masih muda tapi ngga punya pacar itu ngga gaul!"

Pernahkah kita mendengar ungkapan tersebut?

Apakah ungkapan tersebut benar adanya?

Bagaimana menurutmu?

Disadari atau tidak, "pacaran" bukanlah hal yang tepat untuk menyandang titel "gaul" dalam arti sebenarnya.

Perasaan kagum dan tertarik terhadap lawan jenis itu pasti dirasakan oleh setiap orang. Lalu, seiring berjalannya waktu, perasaan tersebut menjadi alasan seseorang untuk berusaha mendapatkannya. Ketika usaha yang dilakukan berhasil, maka tumbuhlah perasaan nyaman yang tidak tergambarkan. Perasaan nyaman yang tumbuh menjadikan segala sesuatu yang dilakukan olehnya membuat hati berbunga.

Sampai akhirnya, berujung kepada status pacaran.

Alasannya sederhana, pacaran dianggap sebagai gembok untuk mengunci seseorang (menjadikan sesuatu sebagai miliknya).

Bagaimana mungkin hal tersebut bisa terjadi?

Bahkan, hal apa sajakah yang telah kita korbankan hingga berani memiliki seseorang tuk hadir di keseharian?

Perlu diingat, wanita ibarat permata. Permata yang terlalu sering dipegang oleh tangan manusia tentu berbeda dengan permata yang tersimpan rapi di dalam kotak. Permata yang tidak terjaga tentu akan terlihat kusam dan tidak menarik. Sementara permata yang terjaga tentu tampak berkilau dan memiliki nilai jual yang tinggi.

Nah.

Dewasa ini, mungkin kita akan menemui judul baru dari kisah lama yang sering di salah artikan. Judul baru tersebut ialah pacaran dalam islam.

"Siapa bilang kita pacaran? Kita nggak pernah kok kontak fisik."

Alasan klasik.

Sebagai generasi muda, kita seringkali salah mengartikan pengertian cinta dan nafsu. Pacaran dalam islam (baik dinyatakan atau tidak) tentu haram hukumnya. Mungkin saja, kita tidak akan menemui kontak fisik antar lawan jenis. Atau sebuah pertemuan antar kedua belah pihak pun jarang dilakukan.

Namun, bagaimana menurutmu tentang menelfon lawan jenis hingga larut malam sekedar memperbincangkan sesuatu yang tidak penting adanya?

Atau sebuah alarm sholat 5 waktu dan makan 3 kali sehari dari seseorang?

Berbagai bentuk perhatian sederhana tersebut melenakan. Jika kita tidak membentengi dengan iman dan taqwa, tentu hati tidak akan kuat menerimanya. Lalu, berujung pada terjerumusnya hati ke dalam jurang nafsu yang tidak tergapai.

Secara perlahan.

Dan.

Mematikan.

Tidak bisa dipungkiri.

Hati yang dibiarkan sendiri akan merasakan sebuah kesepian.

Hati yang dibiarkan sendiri akan membutuhkan sebuah hati lain yang siap menemani.

Hati yang dibiarkan sendiri akan mencari sebuah tempat bersandar yang selalu menghibur di kala langit kelabu.

Dan banyak hal lainnya, tentang hati yang dibiarkan sendiri.

Pertanyaannya, dimanakah posisi Allah di hati seseorang ketika ia merasa telah dibiarkan sendiri?

..to be continued..

Selamat hari Senin! Mari membenahi diri bersama-sama.

DHIORNIKI🌺

2 Comments:

Tags