Langkah bumi semakin terhuyung tak menentu. Entah sudah kali keberapa ia berotasi. Di dalam hati kecilnya, ingin ia memberontak marah. Mengingat usianya yang tak lagi muda, mengapa ia harus melakukan hal konyol seperti ini?
Belum habis berotasi, Sang Pemilik Jagat Raya mengutusnya untuk berevolusi mengelilingi matahari. Sungguh permintaan melelahkan yang tidak mungkin ia tidak acuhkan. Lagi-lagi ia diam saja, keberaniannya hanya sebatas mengumpat dalam hati.
Beberapa kali ia mengintip keadaan para manusia sombong, beberapa kali pula ia harus menahan kesabaran untuk tidak mengutuknya —para manusia sombong—. Tak pelak, anggota tata surya lainnya menatap bumi penuh iba. Maksud hati ingin meringankan beban bumi, tapi apa daya mereka pun tidak memiliki kekuasaan.
Hari-hari berlalu, hingga bumi dihadapkan pada kenyataan naas yang tidak mungkin lagi ia pendam sendirian.
"Huft. Aku merasa tidak enak badan, wahai Sang Pemilik Jagat Raya. Para manusia sombong itu kembali berulah. Mereka selalu berbuat sekenanya. Mereka bahkan uhuk.. tidak pernah peduli kondisi kesehatanku yang uhuk.. kian memburuk uhuk..", keluh bumi sebari terbatuk beberapa kali.
"Bumi, bisakah kamu menahannya untuk selang waktu yang belum bisa aku katakan padamu? Aku masih melihat beberapa manusia baik, mereka tidak sombong dan saling membantu satu sama lain. Bersabarlah bumi.", tegas Sang Pemilik Jagat Raya.
"Aku tidak bisa bersabar lagi. Aku sudah tua wahai Pemilik Jagat Raya! AKU SUDAH TUAAA HIKSS... AKU HANYA MEMBUTUHKAN ISTIRAHATTT HIKSS!!!!" Kali ini, bumi menangis. Air matanya yang jatuh berebutan menyebabkan pasangnya gelombang. Emosinya yang tidak terkendali sudah mencapai tepat di ubun-ubun.
Kondisi kesahatannya pun menjadi tidak seimbang. Badannya demam. Panasnya tidak kunjung reda bahkan beberapa kali ia menahan mual membara sehingga menimbulkan goncangan yang memporak-porandakan banyaknya rumah di muka bumi.
"BUMI BERHENTI!!!! KAMU MEMBAHAYAKAN BANYAK ORANG!!!", seru bulan seraya memegangi pundak bumi yang bergetar hebat.
"AKU MOHON KUATLAH SEDIKIT LAGIIII!! KAMU TIDAK SENDIRIAN BUMI! ADA AKUUU!", seru bulan untuk kali kedua.
Ungkapan bulan nampaknya sukses meredam emosi bumi. Ia menyeka air matanya perlahan, lalu mengambil napas panjang.
Ungkapan bulan nampaknya sukses meredam emosi bumi. Ia menyeka air matanya perlahan, lalu mengambil napas panjang.
"Bulan terimakasih.."
Rona wajah bulan berubah seketika. Ia tampak memerah tanpa sebuah drama. Ungkapan terimakasih itu terdengar tulus menusuk ke relung hatinya.
"Jangan padaku.." bulan menunduk seolah tidak sanggup menatap mata bumi lamat-lamat.
"Lalu? Pada siapa aku harus berterimakasih? Sang Pemilik Jagat Raya? Oooh itu sudah pasti"
"Berterimakasihlah kepada manusia baik. Selagi mereka masih ada, aku yakin cepat atau lambat kondisi kesehatanmu akan membaik seiring berjalannya waktu. By the way bumi, sebenarnya.."
"Apa?"
"Jangan tersenyum lagi padaku, aku.."
"Bulan, berhentilah memintaku melakukan hal yang tidak aku sukai. Aku rasa tanpa aku tersenyum pun, kita sama-sama mengerti perasaan satu sama lain"
"DIHHH BUMIIII!!!!!!! SAKIT LAGI AJA SONO IHHHHH"
Bumi dan bulan terjebak dalam tawa yang memecah keheningan galaksi. Para komet yang sibuk mondar-mondir pun seketika berhenti. Begitu pula dengan para bintang yang dengan sengaja mematikan tombol cahaya mereka untuk menyaksikan bumi dan bulan yang sedang tertawa.
.
.
Berkat manusia baik.
.
Iya, manusia baik.
.
.
Berkat manusia baik.
.
Iya, manusia baik.


Bagus nad, jd novelis aja!! 😗🙊
ReplyDelete