Senin, 7 Januari 2018
"Rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri"
Sungguh sebuah pepatah yang tidak bisa kita ingkari begitu saja. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang istimewa. Keistimewaan itulah yang membuat manusia mudah terjebak dalam lautan keinginan.
Hari ini, ingin jadi ini. Boleh jadi besok, ingin jadi itu.
Tidak ada habisnya.
Di era digital ini, nampaknya snap/story berperan apik untuk mempublikasikan sebuah kebahagiaan. Setiap orang tentu memiliki alasan tersendiri mengapa ia mempublikasikannya. Terlepas dari dipublikasikan atau tidak, kebahagiaan sejati hanyalah dimiliki sang pemilik kisah.
Menilik fenomena tersebut, cukup disayangkan bahwa tidak semua orang mampu memandang kebahagiaan orang lain melalui kacamata positif. Tidak jarang ditemukan seberkas perasan iri yang berujung pada sebuah ungkapan..
"Pengen deh punya nasib baik kayak dia.."
Dan hobi menginginkan kebahagiaan orang lain itulah yang harus kita perbaiki bersama.
Allah SWT telah berfirman dalam salah satu ayat Al-Qur'an yang berbunyi :
"...هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ ..."
(النمل : .٤)
Artinya :
"Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya)"
(An-Naml : 40)
Segala sesuatu yang terlihat membahagiakan belum tentu sebahagia itu. Karena kadar bahagia manusia satu dan lainnya jelas berbeda.
Allah tidak akan pernah bertindak tidak adil dalam membagi nikmatNya.
Jadi, untuk apa menginginkan kebahagiaan orang lain sehingga terbelenggu atasnya?
Mengapa kita tidak berusaha menciptakan kebahagiaan itu sendiri?
Menciptakan kebahagiaan dimulai dari kegiatan bersyukur. Ketika hati sudah pandai bersyukur, maka kita akan dengan mudah mencapai sebuah ketenangan jiwa.
Selamat hari Senin! Mari membenahi diri bersama-sama.
DHIORNIKI🌺
"Rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri"
Sungguh sebuah pepatah yang tidak bisa kita ingkari begitu saja. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang istimewa. Keistimewaan itulah yang membuat manusia mudah terjebak dalam lautan keinginan.
Hari ini, ingin jadi ini. Boleh jadi besok, ingin jadi itu.
Tidak ada habisnya.
Di era digital ini, nampaknya snap/story berperan apik untuk mempublikasikan sebuah kebahagiaan. Setiap orang tentu memiliki alasan tersendiri mengapa ia mempublikasikannya. Terlepas dari dipublikasikan atau tidak, kebahagiaan sejati hanyalah dimiliki sang pemilik kisah.
Menilik fenomena tersebut, cukup disayangkan bahwa tidak semua orang mampu memandang kebahagiaan orang lain melalui kacamata positif. Tidak jarang ditemukan seberkas perasan iri yang berujung pada sebuah ungkapan..
"Pengen deh punya nasib baik kayak dia.."
Dan hobi menginginkan kebahagiaan orang lain itulah yang harus kita perbaiki bersama.
Allah SWT telah berfirman dalam salah satu ayat Al-Qur'an yang berbunyi :
"...هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ ..."
(النمل : .٤)
Artinya :
"Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya)"
(An-Naml : 40)
Segala sesuatu yang terlihat membahagiakan belum tentu sebahagia itu. Karena kadar bahagia manusia satu dan lainnya jelas berbeda.
Allah tidak akan pernah bertindak tidak adil dalam membagi nikmatNya.
Jadi, untuk apa menginginkan kebahagiaan orang lain sehingga terbelenggu atasnya?
Mengapa kita tidak berusaha menciptakan kebahagiaan itu sendiri?
Menciptakan kebahagiaan dimulai dari kegiatan bersyukur. Ketika hati sudah pandai bersyukur, maka kita akan dengan mudah mencapai sebuah ketenangan jiwa.
Selamat hari Senin! Mari membenahi diri bersama-sama.
DHIORNIKI🌺


Keren,I like itu😍
ReplyDeleteI do envy you, ka cantik. I wonder how i am supposed to do so i could be look like you, your cleverness.🥺🥺🥺
ReplyDelete