19 April 2018
Usia 20 tahun. Sepasang mata ini berkutat pada layar alat komunikasi yang kini kugenggam. Sejak semalam, rasanya aku telah menghabiskan waktu tidur dengan percuma. Pengumuman tes kelulusan universitas negeri nyatanya sukses membuat pikiranku rancu berantakan.
Beberapa pesan datang menghantui, sekedar bertanya kabar dan mengingatkanku tentang betapa pentingnya pengumuman tersebut. Aku jadi teringat satu tahun yang lalu, dimana pengumuman tempat pengabdian sebagai guru honorer seakan bertindak sebagai momok menakutkan. Hanya beberapa pondok di Indonesia menerapkan sistem pengabdian setahun seusai menimba ilmu, dan pondokku ialah salah satunya.
Kala itu, aku ditempatkan di pondok kecil di pelosok Sulawesi Selatan. Ingin rasanya hati menjerit kesal, mengingat kenapa harus aku —orang Jawa— yang bernasib seperti ini. Tidak ada nahkoda handal terlahir dari laut yang tidak berombak, itu saja yang membuat hatiku tenang.
Sepersekian detik telah berlalu, waktunya yang ditunggu datang jua. Aku menghela napas panjang, “Bismillahirrahmanirrahim, mudahkan ya Allah”.
Layar tersebut mengedip cepat, berganti dengan pengumuman kelulusanku. Aku menengok sesaat, terlihat kata “selamat” di bagian atas layar. Hatiku membuncah, dengan segera aku membaca tulisan lain yang mengikutinya.
“Naura Setyadi.. Sastra Barat Roman, Universitas Hasanuddin. Oh..UNHAS kan ya alhamdulillah.”
Aku mengelus dada perlahan, sebagai salah satu wujud syukurku.
Namun, hati ini seakan menemui sebuah kejanggalan.
Aku memandangi layar handphone lamat-lamat.
“SASTRA BARAT ROMAN.. UNIVERSITAS HASANUDDIN.. Iya kok bener..”
“Eh eh HAAAAA?! APAAAAA?! YAAMPUN INI APA-APAAN SIH!?!?!?!”
Abi yang sedang menonton tv, sontak berdiri dari singgasananya. Lalu, menoleh kebingungan ke arah sumber suara. “Kamu kenapa to? Gimana hasilnya, nduk?”
“UNIVERSITAS HASANUDDIN ABIIIII!!!! MAAA.. KASSS... SARR! RARA HARUS KE SULAWESI SELATAN LAGI!!!!!! AAAAAAAAAAAAAAA NGGAK MAU POKOKNYAAAAAA!!!!!”, ujarku kesal sebari menjulurkan handphone tersebut kepadanya. Abi tertawa, disusul perut buncitnya yang bergerak naik dan turun.
“Adeeeek, kamu tuh harusnya bersyukur. Inget nggak umi pernah cerita sesuatu?"
“Yang mana? Rara lupa.”, jawabku pedas
“Yang soal kuliah. Inget?”
Pikiranku menerawang, mecoba meraih beberapa memori yang tertinggal jauh di masa lalu
**
19 April 1991
Usia 20 tahun. Sepasang mata ini berpendar asal, efek bosan yang melanda. Bapak dosen masih saja menjelaskan dengan penuh semangat. Tangannya sesekali mengetuk meja dengan keras, mengundang perhatian seisi kelas.
Semester ke-5, aku positif terserang kebosanan akut kuliah. Entah apa yang sebenarnya aku fikirkan, hatiku seakan menolak kenyataan ini. Jujur saja, berada di fakultas hukum sungguh memberatkanku. Masih teringat jelas, bagaimana hebatnya rayuanku untuk mendaftar di fakultas kedokteran Universitas Hasanuddin. Bisa saja nilai ujianku cukup, tapi keputusan mami seakan tidak bisa diganggu gugat. Mami justru mengarahkanku masuk dan terlibat di fakultas yang membosankan ini.
Aku menghela nafas panjang, lalu menggumam perlahan, “Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Aku harus selesaikan kuliah ini segera.”
Iwan yang duduk tepat dibelakangku, mengetuk punggung ini dengan ujung bolpoin. Aku hanya menengoknya masam. Tiba-tiba, bel tanda usai mata kuliah berbunyi, beberapa mahasiswa berhamburan keluar kelas. Aku menelungkupkan wajah di atas meja, mual melihat setumpuk mahasiswa berebutan keluar kelas. Iwan hanya tertawa renyah, laki-laki itu kini duduk tepat di sebelahku.
"Bersyukur lo Dev, kuliah lancar yaa walaupun niat lo setengah-setengah"
Jempol kananku teracung tanpa sengaja. Aku menghela nafas, lalu berusaha bangkit dari rasa bosan yang melanda. Merapikan beberapa buku catatan, menaruh bolpoin ke dalam tempat pensil, lalu memasukkannya rapi ke dalam tas jinjing favoritku.
"Dev, pulang bareng siapa? Sama si Bram? Lo bawa mobil?"
"Iya, sama mas Bram. Kenapa? Mau nebeng?"
"Ngga Dev, cuma mastiin aja lo pulang selamet sentosa. Muka lo sekarang kayak orang sekarat!", barisan gigi putihnya muncul tiba-tiba. Aku tertawa, lalu memukul bahunya ringan.
"Iyadeh Wan, gue duluan"
***
Beginilah hari-hariku sebagai mahasiswi perantau. Tidak terbesit sedikitpun dalam hati ini, memilih Surabaya sebagai destinasi kuliah. Entah mengapa, Allah menuntunku untuk menimba ilmu di kota pahlawan tersebut.
Sebagian kisah duka sengaja aku simpan rapat-rapat, biar aku dan Allah yang mengetahuinya. Senyuman lebar pun terpampang, menutupi segala penat yang datang tanpa diundang.
Sepersekian menit menunggu, yang ditunggu datang juga. Dialah mas Bram, mahasiswa senior yang nyatanya masih sering mengulang semester. Entah apa yang semesta rencanakan, pertemuanku dengannya tentu tidak terduga.
Masa ospek menjadi hadiah sang takdir untukku. Kala itu, mobilku mogok tanpa direncana. Sementara jarak rumah dan kampus tidak bisa diragukan. Ditambah sebuah fakta, bahwa aku hanyalah mahasiswi rantau yang tidak hafal jalan. Ingin rasanya menjerit kesal bila mengingat hal itu. Tapi, ada benarnya sebuah pepatah yang mengatakan "pucuk dicinta, ulam pun tiba". Mas Bram datang bak seorang malaikat, menawarkan sebuah motor vespa lalu menawariku pulang bersama.
Aku dan mas Bram memiliki perbedaan yang mecolok. Mas Bram adalah orang asli Gorontalo yang lahir dan besar di Surabaya. Di sisi lain, aku adalah orang jawa tulen yang besar di Jakarta. Secara logika, tidak ada satu kesamaan pun diantara kita berdua.
"Lama, Dev?"
"Iya, sampe jamuran, mas. Gimana kuliah? Jangan suka titip absen mas, nggak baik"
"Iya. Baru juga sekali titip absen, Dev. Itupun si Dewo ikhlas-ikhlas aja"
"Iya. Sekali minggu ini, besoknya lagi, terus lagi. Terusin aja bolos mas, sampe sepuluh taun ngampus. Ini taun ke limamu loh!", omelku kesal.
Lagi-lagi ia hanya tertawa, sebari merapikan rambut gondrong belah tengah miliknya.
"Ayo, jadi nggak ke toko buku?"
Tanpa jawaban, aku membuka pintu mobil. Menaiki kursi penumpang di sebelah supir. Di sisi lain, mas Bram segera menyalakan mesin mobil seolah tidak membutuhkan jawaban.
Perjalanan dimulai. Tanpa aku sadari, perjalananku dengannya bukan hanya sebatas pergi ke toko buku. Melainkan perjalanan hidup hingga menuju surgaNya.
***
19 Mei 2018
Aku tertawa terpingkal. Obrolan dengan abi satu bulan yang lalu, lantas membuat hatiku merindu. Dengan berbekal dokumen penting, aku memberanikan diri hidup seorang diri di tanah rantau. Kisah abi dan umi menyadarkanku, bahwa Indonesia tidak sesempit sudut pandangku.
Hidup merantau bukan pilihan yang salah. Indonesia terbentang dari sabang hingga merauke. Sebuah penyesalan bagiku, jika aku melewatkan kesempatan ini begitu saja. Kesempatan untuk menjelajahi indahnya negeriku, Indonesia.
Beberapa menit berlalu, aku masih membolak-balik lembar halaman buku asal, sebari mengingat beberapa percakapan penting dengan kedua orangtuaku. Satu hari sebelum keberangkatan, umi menceramahiku begitu panjang. Entah itu tentang mimpinya yang tidak terwujud dan aku yang berhasil mewujudkannya, tentang pertemuannya dengan abi, lelaki Sulawesi yang membuatnya jatuh cinta, dan beribu kisah lainnya yang bahkan tidak bisa aku pahami secara gamblang.
Aku menoleh ke sekeliling. Mataku menerobos jauh ke arah pembicaraan mereka, mendengarkan dengan seksama logat yang mereka ucapkan. Tanpa sengaja, tawaku terlepas. Benar kiranya yang umi katakan, setiap daerah di Indonesia memiliki warna.
"Naura Setyadi"
Aku tersentak, seakan tidak percaya atas apa yang baru aku dengar.
"Ededeh. Kenapaki dek? Masuk mi ruangan ta."
Ingin rasanya aku tertawa. Logat yang ia ucapkan terdengar sungguh menarik bagiku, seorang perantau.
"Iye, kak", jawabku.
Senyumku tanpa sengaja terpulas.
"Ah. Betapa indahnya sebuah perbedaan."
Usia 20 tahun. Sepasang mata ini berkutat pada layar alat komunikasi yang kini kugenggam. Sejak semalam, rasanya aku telah menghabiskan waktu tidur dengan percuma. Pengumuman tes kelulusan universitas negeri nyatanya sukses membuat pikiranku rancu berantakan.
Beberapa pesan datang menghantui, sekedar bertanya kabar dan mengingatkanku tentang betapa pentingnya pengumuman tersebut. Aku jadi teringat satu tahun yang lalu, dimana pengumuman tempat pengabdian sebagai guru honorer seakan bertindak sebagai momok menakutkan. Hanya beberapa pondok di Indonesia menerapkan sistem pengabdian setahun seusai menimba ilmu, dan pondokku ialah salah satunya.
Kala itu, aku ditempatkan di pondok kecil di pelosok Sulawesi Selatan. Ingin rasanya hati menjerit kesal, mengingat kenapa harus aku —orang Jawa— yang bernasib seperti ini. Tidak ada nahkoda handal terlahir dari laut yang tidak berombak, itu saja yang membuat hatiku tenang.
Sepersekian detik telah berlalu, waktunya yang ditunggu datang jua. Aku menghela napas panjang, “Bismillahirrahmanirrahim, mudahkan ya Allah”.
Layar tersebut mengedip cepat, berganti dengan pengumuman kelulusanku. Aku menengok sesaat, terlihat kata “selamat” di bagian atas layar. Hatiku membuncah, dengan segera aku membaca tulisan lain yang mengikutinya.
“Naura Setyadi.. Sastra Barat Roman, Universitas Hasanuddin. Oh..UNHAS kan ya alhamdulillah.”
Aku mengelus dada perlahan, sebagai salah satu wujud syukurku.
Namun, hati ini seakan menemui sebuah kejanggalan.
Aku memandangi layar handphone lamat-lamat.
“SASTRA BARAT ROMAN.. UNIVERSITAS HASANUDDIN.. Iya kok bener..”
“Eh eh HAAAAA?! APAAAAA?! YAAMPUN INI APA-APAAN SIH!?!?!?!”
Abi yang sedang menonton tv, sontak berdiri dari singgasananya. Lalu, menoleh kebingungan ke arah sumber suara. “Kamu kenapa to? Gimana hasilnya, nduk?”
“UNIVERSITAS HASANUDDIN ABIIIII!!!! MAAA.. KASSS... SARR! RARA HARUS KE SULAWESI SELATAN LAGI!!!!!! AAAAAAAAAAAAAAA NGGAK MAU POKOKNYAAAAAA!!!!!”, ujarku kesal sebari menjulurkan handphone tersebut kepadanya. Abi tertawa, disusul perut buncitnya yang bergerak naik dan turun.
“Adeeeek, kamu tuh harusnya bersyukur. Inget nggak umi pernah cerita sesuatu?"
“Yang mana? Rara lupa.”, jawabku pedas
“Yang soal kuliah. Inget?”
Pikiranku menerawang, mecoba meraih beberapa memori yang tertinggal jauh di masa lalu
**
19 April 1991
Usia 20 tahun. Sepasang mata ini berpendar asal, efek bosan yang melanda. Bapak dosen masih saja menjelaskan dengan penuh semangat. Tangannya sesekali mengetuk meja dengan keras, mengundang perhatian seisi kelas.
Semester ke-5, aku positif terserang kebosanan akut kuliah. Entah apa yang sebenarnya aku fikirkan, hatiku seakan menolak kenyataan ini. Jujur saja, berada di fakultas hukum sungguh memberatkanku. Masih teringat jelas, bagaimana hebatnya rayuanku untuk mendaftar di fakultas kedokteran Universitas Hasanuddin. Bisa saja nilai ujianku cukup, tapi keputusan mami seakan tidak bisa diganggu gugat. Mami justru mengarahkanku masuk dan terlibat di fakultas yang membosankan ini.
Aku menghela nafas panjang, lalu menggumam perlahan, “Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Aku harus selesaikan kuliah ini segera.”
Iwan yang duduk tepat dibelakangku, mengetuk punggung ini dengan ujung bolpoin. Aku hanya menengoknya masam. Tiba-tiba, bel tanda usai mata kuliah berbunyi, beberapa mahasiswa berhamburan keluar kelas. Aku menelungkupkan wajah di atas meja, mual melihat setumpuk mahasiswa berebutan keluar kelas. Iwan hanya tertawa renyah, laki-laki itu kini duduk tepat di sebelahku.
"Bersyukur lo Dev, kuliah lancar yaa walaupun niat lo setengah-setengah"
Jempol kananku teracung tanpa sengaja. Aku menghela nafas, lalu berusaha bangkit dari rasa bosan yang melanda. Merapikan beberapa buku catatan, menaruh bolpoin ke dalam tempat pensil, lalu memasukkannya rapi ke dalam tas jinjing favoritku.
"Dev, pulang bareng siapa? Sama si Bram? Lo bawa mobil?"
"Iya, sama mas Bram. Kenapa? Mau nebeng?"
"Ngga Dev, cuma mastiin aja lo pulang selamet sentosa. Muka lo sekarang kayak orang sekarat!", barisan gigi putihnya muncul tiba-tiba. Aku tertawa, lalu memukul bahunya ringan.
"Iyadeh Wan, gue duluan"
***
Beginilah hari-hariku sebagai mahasiswi perantau. Tidak terbesit sedikitpun dalam hati ini, memilih Surabaya sebagai destinasi kuliah. Entah mengapa, Allah menuntunku untuk menimba ilmu di kota pahlawan tersebut.
Sebagian kisah duka sengaja aku simpan rapat-rapat, biar aku dan Allah yang mengetahuinya. Senyuman lebar pun terpampang, menutupi segala penat yang datang tanpa diundang.
Sepersekian menit menunggu, yang ditunggu datang juga. Dialah mas Bram, mahasiswa senior yang nyatanya masih sering mengulang semester. Entah apa yang semesta rencanakan, pertemuanku dengannya tentu tidak terduga.
Masa ospek menjadi hadiah sang takdir untukku. Kala itu, mobilku mogok tanpa direncana. Sementara jarak rumah dan kampus tidak bisa diragukan. Ditambah sebuah fakta, bahwa aku hanyalah mahasiswi rantau yang tidak hafal jalan. Ingin rasanya menjerit kesal bila mengingat hal itu. Tapi, ada benarnya sebuah pepatah yang mengatakan "pucuk dicinta, ulam pun tiba". Mas Bram datang bak seorang malaikat, menawarkan sebuah motor vespa lalu menawariku pulang bersama.
Aku dan mas Bram memiliki perbedaan yang mecolok. Mas Bram adalah orang asli Gorontalo yang lahir dan besar di Surabaya. Di sisi lain, aku adalah orang jawa tulen yang besar di Jakarta. Secara logika, tidak ada satu kesamaan pun diantara kita berdua.
"Lama, Dev?"
"Iya, sampe jamuran, mas. Gimana kuliah? Jangan suka titip absen mas, nggak baik"
"Iya. Baru juga sekali titip absen, Dev. Itupun si Dewo ikhlas-ikhlas aja"
"Iya. Sekali minggu ini, besoknya lagi, terus lagi. Terusin aja bolos mas, sampe sepuluh taun ngampus. Ini taun ke limamu loh!", omelku kesal.
Lagi-lagi ia hanya tertawa, sebari merapikan rambut gondrong belah tengah miliknya.
"Ayo, jadi nggak ke toko buku?"
Tanpa jawaban, aku membuka pintu mobil. Menaiki kursi penumpang di sebelah supir. Di sisi lain, mas Bram segera menyalakan mesin mobil seolah tidak membutuhkan jawaban.
Perjalanan dimulai. Tanpa aku sadari, perjalananku dengannya bukan hanya sebatas pergi ke toko buku. Melainkan perjalanan hidup hingga menuju surgaNya.
***
19 Mei 2018
Aku tertawa terpingkal. Obrolan dengan abi satu bulan yang lalu, lantas membuat hatiku merindu. Dengan berbekal dokumen penting, aku memberanikan diri hidup seorang diri di tanah rantau. Kisah abi dan umi menyadarkanku, bahwa Indonesia tidak sesempit sudut pandangku.
Hidup merantau bukan pilihan yang salah. Indonesia terbentang dari sabang hingga merauke. Sebuah penyesalan bagiku, jika aku melewatkan kesempatan ini begitu saja. Kesempatan untuk menjelajahi indahnya negeriku, Indonesia.
Beberapa menit berlalu, aku masih membolak-balik lembar halaman buku asal, sebari mengingat beberapa percakapan penting dengan kedua orangtuaku. Satu hari sebelum keberangkatan, umi menceramahiku begitu panjang. Entah itu tentang mimpinya yang tidak terwujud dan aku yang berhasil mewujudkannya, tentang pertemuannya dengan abi, lelaki Sulawesi yang membuatnya jatuh cinta, dan beribu kisah lainnya yang bahkan tidak bisa aku pahami secara gamblang.
Aku menoleh ke sekeliling. Mataku menerobos jauh ke arah pembicaraan mereka, mendengarkan dengan seksama logat yang mereka ucapkan. Tanpa sengaja, tawaku terlepas. Benar kiranya yang umi katakan, setiap daerah di Indonesia memiliki warna.
"Naura Setyadi"
Aku tersentak, seakan tidak percaya atas apa yang baru aku dengar.
"Ededeh. Kenapaki dek? Masuk mi ruangan ta."
Ingin rasanya aku tertawa. Logat yang ia ucapkan terdengar sungguh menarik bagiku, seorang perantau.
"Iye, kak", jawabku.
Senyumku tanpa sengaja terpulas.
"Ah. Betapa indahnya sebuah perbedaan."


0 Comments:
Post a Comment