Kamis, 17 Januari 2018
الوقت كالسيف إن لم تقطعه قطعك
Semua raga yang bernyawa sejatinya memiliki kesempatan yang sama, 24 jam yang sama. Cukup disayangkan, hanya beberapa dari sekian banyaknya manusia mampu menggunakan 24 jam miliknya dengan sebaik mungkin.
Waktu ibarat pedang yang bisa jadi membunuh pemiliknya kapan saja.
Sebagai seorang manusia biasa, kita mudah saja dikalahkan oleh beberapa faktor tertentu yang menyebabkan 24 jam seakan terlihat remeh. Bahkan tidak jarang kita menghabiskan kesempatan tersebut hanya karena alasan sederhana bernamakan "mager".
"Mager" alias males gerak adalah budaya buruk yang biasa dikerjakan manusia tatkala mood sudah enggan untuk diajak bekerja sama.
Sebut saja K.H. Hasan Abdullah Sahal dalam salah satu pidatonya beliau sempat berkata "Jangan mencari waktu luang untuk berbuat, tapi luangkanlah waktu untuknya. Jangan cari-cari waktu kosong apalagi sampai mengosongkan waktu. Jangan ikuti mood, tapi ciptakanlah mood sendiri. Kualitasmu ditentukan bagaimana kamu mengisi waktu kosongmu."
Saya pribadi merasakan cambukan dahsyat dari petuah yang beliau lontarkan. Mau tak mau memaksa saya keluar dari zona "mager" yang kerapkali menghantui.
Ada baiknya tegas pada diri sendiri perihal definisi prioritas yang masih saja berantakan. Karena hidup bukan tentang berapa lama waktu yang kamu habiskan, namun tentang apa saja yang kamu lakukan pada waktu tengah dihabiskan.
Apakah kesibukan kita bermanfaat dunia dan akhirat?
24 jam milikmu jangan dibiarkan percuma. Kualitasmu ditentukan bagaimana kamu mengisi waktu kosongmu.
Kasian kan pasukan detik udah berpatroli keliling-keliling, tapi kita masih gini-gini aja?
Selamat hari Kamis! Mari membenahi diri bersama-sama.
DHIORNIKI🌺
الوقت كالسيف إن لم تقطعه قطعك
Semua raga yang bernyawa sejatinya memiliki kesempatan yang sama, 24 jam yang sama. Cukup disayangkan, hanya beberapa dari sekian banyaknya manusia mampu menggunakan 24 jam miliknya dengan sebaik mungkin.
Waktu ibarat pedang yang bisa jadi membunuh pemiliknya kapan saja.
Sebagai seorang manusia biasa, kita mudah saja dikalahkan oleh beberapa faktor tertentu yang menyebabkan 24 jam seakan terlihat remeh. Bahkan tidak jarang kita menghabiskan kesempatan tersebut hanya karena alasan sederhana bernamakan "mager".
"Mager" alias males gerak adalah budaya buruk yang biasa dikerjakan manusia tatkala mood sudah enggan untuk diajak bekerja sama.
Sebut saja K.H. Hasan Abdullah Sahal dalam salah satu pidatonya beliau sempat berkata "Jangan mencari waktu luang untuk berbuat, tapi luangkanlah waktu untuknya. Jangan cari-cari waktu kosong apalagi sampai mengosongkan waktu. Jangan ikuti mood, tapi ciptakanlah mood sendiri. Kualitasmu ditentukan bagaimana kamu mengisi waktu kosongmu."
Saya pribadi merasakan cambukan dahsyat dari petuah yang beliau lontarkan. Mau tak mau memaksa saya keluar dari zona "mager" yang kerapkali menghantui.
Ada baiknya tegas pada diri sendiri perihal definisi prioritas yang masih saja berantakan. Karena hidup bukan tentang berapa lama waktu yang kamu habiskan, namun tentang apa saja yang kamu lakukan pada waktu tengah dihabiskan.
Apakah kesibukan kita bermanfaat dunia dan akhirat?
24 jam milikmu jangan dibiarkan percuma. Kualitasmu ditentukan bagaimana kamu mengisi waktu kosongmu.
Kasian kan pasukan detik udah berpatroli keliling-keliling, tapi kita masih gini-gini aja?
Selamat hari Kamis! Mari membenahi diri bersama-sama.
DHIORNIKI🌺


0 Comments:
Post a Comment